Puisi dari Sudut Malioboro | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Puisi dari Sudut Malioboro Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 2:00 am Rating: 4,5

Puisi dari Sudut Malioboro

Suatu masa pada awal era 1970-an, Malioboro mempunyai seorang presiden. Ia bernama Umbu Landu Paranggi yang membentuk Persada Studi Klub. Dari sana tumbuh sejumlah tokoh penting, seperti Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, dan Linus Suryadi Ag (alm).

 Di salah satu sudut Jalan Malioboro, Yogyakarta, sekelompok anak muda yang gelisah tengah berkumpul. Mereka belajar, berolah pikir dan rasa, memahami kehidupan lewat sastra di bawah asuhan Umbu Landu Paranggi. Kini Malioboro menjadi salah satu titik tersibuk di Kota Yogyakarta dengan segala bisnis turistiknya. Tempat para seniman berkumpul dulu itu kini gelap dan terlupakan.

Selasa (5/5) malam itu, ribuan pelancong hilir-mudik di sepotong jalan di tengah-tengah Kota Yogyakarta itu. Mereka berfoto bersama untuk membagikannya kepada rekan-rekan di dunia maya.

”Akhir tahun 1960-an sampai dengan pertengahan 1970-an, Malioboro sangat damai. Lengang dan nyaman untuk berlama-lama. Sekarang ini bernapas saja rasanya susah,” kata Imam Budhi Santosa (67) yang kesulitan menyeberang jalan dari Halte Malioboro ke Toko Corona yang menjual aneka baju batik.

Di tengah hiruk-pikuk dan pendaran cahaya toko, tampak sebuah bangunan gelap di lantai dua Toko Corona di Jalan Malioboro Nomor 175A. ”Itu ruangan untuk gudang dan kadang saya pakai senam aerobik. Tapi sudah lama libur,” kata Mia Ratmiasih (44), pemilik Toko Corona.

Dinding ruangan sudah kusam dan dingin. Beberapa bagian ditumbuhi jamur dan lumut karena lembab. Ratusan kain batik pekalongan menumpuk di salah satu sudut ruangan. Agung, suami Mia, membeli bangunan itu dengan jenis izin hak guna bangunan (HGB) dari seorang pedagang yang semula menjadikannya sebagai toko listrik. Agung kemudian mengubah bangunan bagian bawah menjadi studio foto pada kurun awal 1990-an hingga sekitar 2005.

”Sebelum itu, kami sama sekali tidak mengetahui bangunan ini dipakai untuk apa. Yang kami tahu, ini bangunan cagar budaya,” ujar Agung.

Di gedung itulah dulu Umbu dan kawan-kawan berpuisi.

Persada Studi Klub

Sebagian orang setuju bahwa nama Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta malyabhara yang berarti ’berhiaskan untaian bunga’ (Peter Carey: 2015). Sejak awal abad ke-19 hingga sekarang, jalan ini kerap dijadikan tempat seremoni sehingga semarak dan bertabur bunga hias. Tapi, bagi Imam Budhi Santosa, Malioboro itu gabungan dari kata malih yang berarti ’berubah’ dan boro yang berarti ’mengembara’. ”Jadi Malioboro kira-kira artinya mengembaralah,” ujarnya.

Pengembaraan dalam konteks Imam adalah pengembaraan intelektual. Setidaknya dalam kurun waktu 1967 hingga 1975, Imam menghabiskan banyak waktu di Malioboro. Bersama dengan Umbu Landu Paranggi sebagai penggerak, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarna Pragolapati, Soeparno S Adhy, Mugiyono Gitowarsono, dan M Ipan Sugiyanto Sugito, Imam turut mendirikan Persada Studi Klub (PSK) pada 1969.

”Itu masa memang harus begitu. Puisi bisa menggerakkan, melatih diri, menempa hidup, menekuni jalan keintelektualan. Menulis puisi bukan cuma untuk penyair, tetapi terlebih penyadaran diri...,” begitu tutur Umbu Landu Paranggi.

Imam menjelaskan, waktu itu Umbu tergerak untuk mengelola koran mingguan Pelopor Jogja yang nyaris mati. Kebetulan saat itu suasana politik memanas akibat dampak peristiwa G30S. Di bidang gerakan kebudayaan, mereka berkubu-kubu, seperti munculnya Suluh Marhaen, Masa Kini, dan Manifes Kebudayaan, meskipun Lekra telah tumbang seiring pelarangan pemerintah terhadap PKI.

Sebagian anak muda yang tidak ingin masuk dalam konflik tetapi haus ilmu itu memilih keluar rumah atau keluar kampung dan berkumpul di Jalan Malioboro. Titik kumpulnya biasanya di kantor Pelopor Jogja. Umbu lantas mewadahi mereka untuk berdiskusi tentang segala hal terutama sastra yang kemudian melahirkan PSK pada awal 1969. ”Ada yang bilang tahun itu baru lahir. Tapi seingat saya aktivitas PSK sudah ada sejak tahun 1967,” kata Imam.

Anak-anak muda itu digerakkan Umbu untuk berkarya sekaligus menghidupkan Pelopor Jogja. Mereka berkumpul sejak sore hingga dini hari. Setiap malam Minggu menjelang terbit, mereka bergiliran menunggui proses percetakan. Sebagian tulisan-tulisan mereka dimuat di koran itu. ”Dulu kalau mencari kami ini ya bukan ke rumah, tapi ke Malioboro,” kata Imam yang sejak 1971 mengurangi kegiatannya di PSK karena bekerja di Perkebunan Teh Medini, Kendal.

Pusat pertemuan dilakukan di gedung lantai dua yang kini menjadi gudang Toko Corona tersebut. Saat itu lantai bawah difungsikan sebagai toko sehingga anak-anak muda murid Umbu harus memasuki lorong yang lebarnya tak lebih dari 1 meter dan meniti tangga di samping bangunan untuk masuk gedung. Tangga itu kini sudah tak ada lagi.

Anak-anak muda itu kadang berkelompok di depan Hotel (Inna) Garuda untuk berdiskusi tentang sastra. Ada juga yang berkumpul di sekitar Hotel Mutiara membahas teater. Sebagian lain bergerombol di dekat bangunan Senisono, dekatTitik Nol Yogyakarta, untuk mengasah kemampuan seni lukis. ”Tapi pusatnya tetap di Pelopor Jogja,” kata Imam.

Menurut Imam dan juga sebagaimana ditulis Saeful Anwar (2013) dalam tesisnya saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Persada Studi Klub: Disposisi dan Pencapaiannya dalam Arena Sastra Nasional, jika tidak ada koran Pelopor Jogja yang hampir mati, situasi politik yang mengotak-ngotakkan pegiat budaya, serta Umbu, mungkin PSK tidak pernah lahir. Mungkin juga nama-nama besar aktivis PSK tidak pernah ada.

Di antara mereka yang pernah berada di lingkaran pergaulan budaya Umbu itu adalah Ebiet G Ade. Dia berada di sana dibawa oleh rekan-rekan Emha Ainun Nadjib dan EH Kartanegara. Ebiet tidak lama berada bergaul dengan Umbu karena setelah itu Umbu menghilang melanjutkan pengembaraannya di Bali.

Ebiet G Ade

Ebiet mengenang, dalam suatu acara yang digelar PSK di Kadipaten Lor, Yogyakarta, dia bermain gitar dan menyanyikan puisi karya Emily Dickinson ”I’m Nobody”.

”Saya merasa tidak punya apa seperti mereka, para penyair besar. Tapi di sanalah saya mulai paham bahwa saya mempunyai kemampuan kecil yang bisa dikembangkan. Dan ternyata kemampuan saya itu diapresiasi,” kata Ebiet

Umbu tak lagi berada di Malioboro, harian Pelopor Jogja telah mati. Begitu juga dengan lampu di gedung ini malam itu. Tetapi, apa yang dikerjakan Umbu dan Persada Studi Klub ikut serta mewarnai peta kebudayaan di Tanah Air, sampai kini....  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Hilmi Faiq
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 10 Mei 2015