Dapur Kita dari Panggung Publik Sumatera | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Dapur Kita dari Panggung Publik Sumatera Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 2:05 pm Rating: 4,5

Dapur Kita dari Panggung Publik Sumatera

Perhelatan Panggung Publik Sumatera#4 di Padang Panjang, Sumatera Barat, yang berlangsung 28-30 Mei 2015 mengapungkan tema ”Dapur Kita” sebagai sumber penggalian dan inspirasi penciptaan karya kreatif seni. Dapur menjadi ruang vital dari bangunan kebudayaan dan peradaban. Kehadirannya menandai suatu tonggak penting perkembangan evolusi kesadaran di mana manusia mulai memikirkan pentingnya mengolah terlebih dahulu apa yang dimakannya di ruang yang disediakan secara khusus pula. Dalam fungsinya yang paling primer, dapur menegaskan kenyataannya sebagai ruang olah, ruang kreativitas yang tak terbantahkan.

Produk dapur berupa sajian aneka jenis masakan menjelaskan interaksi kebudayaan, cita rasa, kesadaran, imaji, keterampilan, dunia batin, dan tingkat peradaban suatu masyarakat. Semakin kaya dan beragamnya masakan suatu komunitas masyarakat menjelaskan kemampuan kreatif, eksperimen, dan eksplorasinya di dalam memanfaatkan sumber makanan yang disediakan oleh alam lingkungan.

Dalam konteks perhelatan seni, dapur menjadi tempat segala bahan mentah dicincang, diramu, diracik, diberi bumbu dan penyedap, digodok, dimasak dan disajikan sehingga bernilai lebih, memiliki cita rasa lebih, dan dengannya dapat lebih dinikmati. Kekayaan mitologi, sejarah, tradisi dan pertunjukan budaya, realitas sosial-politik, ekonomi, praktik buruk kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai bahan mentahnya diperlakukan sedemikian rupa oleh seniman sehingga publik dapat menikmati realitas nilai dan kesadaran yang ada di baliknya.

”Dapur Kita” dengannya menyimpan daftar panjang kreativitas dari rahim kebudayaan kita. Kreativitas yang dimungkinkan oleh kehadiran yang lain, yang asing dan berbeda. Dengan demikian, tak dapat dielak bahwa dapur dibangun oleh pertemuan manusia dari pelbagai latar budaya yang saling memengaruhi. Kehadiran yang satu menjelaskan yang lain. Membangun koeksistensi bersama dalam ketergantungan produktif. Asam laut bertemu manis gunung, gelora laut bersua keheningan dan aroma lembah. Pada dapur dan apa yang dimakan, kita mengenal wujud lahiriah dan wajah batin suatu masyarakat, termasuk kepiawaian dan kelenturannya berbagi selera, berjabat hati dan rasa dengan yang lain.

Dapur dalam konteks kebudayaan tidak lagi merupakan ruang fisik yang statis. Ia menjadi ruang dinamis yang mesti senantiasa diciptakan oleh silaturahim dan pertemuan-pertemuan di mana kreativitas dirawat dan digairahkan dalam semangat seni rakyat agar kemudian menjadi bagian dari perlengkapan organisasi sosial (masyarakat). Maka kehadiran event publik seperti Panggung Publik Sumatera pada akhirnya diharapkan menjadi dapur yang memasok nutrisi terbaik bagi kebutuhan dan kesehatan masyarakat yang menopangnya.

Proses pertumbuhan

Melalui proses dan pertumbuhan dari tahun ke tahun serta pergaulan yang intens dengan event-event serupa, kegiatan publik apalagi yang bernama kesenian secara tak disadari menebar bagai aroma sedap masakan. Menarik semua orang menghampirinya. Menyediakan dirinya sebagai dapur yang menyatukan segala perbedaan. Mempertautkan para pelakunya melalui gerak, musik, irama, kisah, nyanyian sebagai pengalaman bersama, pengalaman penyatuan. Seni lantas menjadi bagian dari pengalaman kolektif di mana masyarakat dapat menjadikannya sebagai sarana untuk memasuki ruang dan irama yang lain, yang berbeda dengan keseharian sehingga ketika kembali menjalani aktivitas sehari-harinya, mereka sudah dipenuhi dengan tenaga, spirit, dan irama yang baru dan segar. Tekanan hidup, capek-lelah, tantangan, dan kesulitan dirayakan lewat ekspresi seni bersama. Ketegangan dilepaskan, rasa kesal, marah, dan semacamnya dibebaskan. Sukacita dan rasa syukur dibangkitkan.

Di panggung publik, jarak antara pelaku seni dan penonton didekatkan, dibuat berimpit, agar penonton diberi ruang menjadi pelaku, setidak-tidaknya secara fisik dan emosional. Dengan semakin intens terlibat di dalam suatu nyanyian atau tarian misalnya, orang menekan dominasi kontrol pikiran atas tubuh dan gerak, lalu menjahit irama dan gerak personalnya dengan gerakan dan irama orang lain. Jadilah tubuh, irama, dan gerak bersama. Dengannya orang mengikat dirinya dengan orang lain dan bersama-sama menari dalam tarian/nyanyian alam. Menuju pada keselarasan bersama. Di sana luka-luka sosial disembuhkan. Rasa sakit dibebaskan. Benci dan dendam didamaikan dengan tenaga dan energi sukacita kebersamaan.

Semangat Panggung Publik Sumatera#4 adalah mengembalikan seni kepada dapur kulturalnya; Seni yang lahir dari tantangan alam, tumbuh dalam jahitan sejarah, merekam dinamika dan pergulatan konkret-aktual serta mengakomodasi sukacita dan kegembiraan masyarakatnya. Ia lahir dari masyarakat dan menjadi tempat masyarakat melihat wajah dan kebutuhan-kebutuhannya. Menjadi saluran bagi segala kegelisahan dan alat perjuangan kepentingan-kepentingan masyarakat.

Kekuatan seni pertunjukan sebagai tontonan langsung, apalagi di ruang publik yang terbuka, memacu pelaku pentas ataupun khalayak penikmat untuk saling menyesuaikan. Dan ketika keduanya, walau tidak selalu saja terjadi, berada di satu frekuensi batin dan kesadaran yang sama, ia akan menarik semakin banyak orang untuk masuk pada medan gelombang yang sama. Teramplifikasi daya jiwa/ruhnya sehingga menjadi kekuatan pengubah yang disadari atau tidak memberi pengaruh yang luar biasa bagi semua orang yang terlibat termasuk pada lingkungan sekitarnya.

Sampai di sini diharapkan event publik tahunan di Kota Padang Panjang dan event-event publik lain yang serupa dapat menjadi dapur tempat dipersiapkannya segala nutrisi mental dan jiwa demi mengantisipasi merebaknya penyakit gizi buruk yang melanda batin dan kemanusiaan kita. Ia menyediakan dirinya sebagai dapur rehabilitasi atau bengkel bagi segala jenis kerusakan batin yang membahayakan bangunan hidup bersama dalam skala lokal terbatas ataupun luas (global).

Hal ini penting manakala industri hiburan kian gencar menggiring kiblat masyarakat kita pada budaya ”kedangkalan” dan logika kompetisi: ”saya menang, saya unggul, saya hidup dengan cara mengeliminasi atau menyingkirkan orang lain”. Lambat laun hidup kita diarahkan pada bagaimana mengalahkan, mengagresi, memotong haluan dan ruang gerak orang lain. Empati, saling rasa, saling tanggung dengan sendirinya akan terdepak. Ruang batin dan kepekaan kemanusiaan tergerus dan sistem predator mulai tumbuh menghancurkan bangunan kebersamaan kita.

Seni di ruang publik bukan sekadar hadir, melainkan melalui keterserapan pada pergulatan konkret-aktual masyarakat, ia tampil sebagai otak dan hati masyarakat. Ia bicara dalam bahasa publik, dalam komunikasi yang hangat, sederhana. Namun, karena tumbuh dalam detak nadi masyarakat, ia menyentuh hati, pikiran, dan kesadaran mereka. Inilah ideal seni yang dimatangkan dalam dapur kultural dan dipersiapkan untuk lahir di ruang publik. Tentunya menagih kerja keras, kesungguhan, dan kreativitas sang seniman sebagai juru masak untuk menyajikan aneka hidangan yang lebih renyah, gurih, dan kaya nutrisi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Silvester Petara Hurit  
[2] Perah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 21 Juni 2015