Monumen Untuk yang Terempas | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Monumen Untuk yang Terempas Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:37 pm Rating: 4,5

Monumen Untuk yang Terempas

Musim semi hampir berakhir. Sore itu, 12 Mei 2015, saya dan perupa Mangu Putra tiba di kota Gwangju, Korea Selatan, setelah menempuh 12 jam perjalanan udara dan darat dengan rute Denpasar-Incheon-Gimpo-Gwangju. Kami datang memenuhi undangan Gwangju Museum of Art untuk berbicara dalam seminar internasional bertema ”Seni Rupa, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Perdamaian”.

Hampir berbarengan dengan kegiatan kami di Gwangju Museum of Art, acara akbar internasional ”World Human Rights Cities Forum 2015” digelar di Kimdaejung Convention Center. Gwangju memang sedang giat membangun identitas kultural sebagai kota pusat demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian.

Sore itu juga, setelah mampir di Gwangju Museum of Art dan berbincang-bincang sejenak dengan ketua dan anggota tim kurator museum besar tersebut, kami langsung diantarkan oleh salah satu kurator mengunjungi May 18th National Cemetery. Inilah kompleks pekuburan seluas 16 hektar, semacam taman makam pahlawan yang megah. Selain deretan nisan lengkap dengan data identitas dan foto si mati, kompleks ini juga memiliki tugu berukuran monumental, gedung yang pada dindingnya tertera data identitas mendiang, patung-patung besar bertema perjuangan, museum modern, kuil, taman, dan sebagainya.

Situs May 18th National Cemetery merupakan tempat peristirahatan terakhir (sebagian dari) mahasiswa dan warga sipil Gwangju yang gugur akibat tindak represif aparat militer Korsel dan sekaligus tempat untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan warga kota Gwangju dalam menegakkan demokrasi.

Pada 18-27 Mei 1980, lebih dari 150 warga sipil Gwangju tewas dan ribuan lainnya terluka dalam unjuk rasa memprotes penerapan Darurat Militer oleh junta militer pimpinan Mayjen Chun Doo Hwan yang merebut kekuasaan dengan kudeta pasca pembunuhan Presiden Park Jeong-hui pada 26 Oktober 1979. Kompleks May 18th National Cemetery dibangun pada 1993-1997 sebagai simbol pergerakan demokratisasi di Korsel, setelah rezim diktator militer akhirnya runtuh digantikan pemerintahan sipil demokratis.

Berjarak sekitar satu jam perjalanan udara dari Gwangju, di lepas pantai sebelah selatan Semenanjung Korea, ada pulau wisata populer Korea Selatan, Pulau Jeju. Pada musim dingin tahun lalu, sejumlah perupa, kurator, dan pemilik galeri dari Bali berkunjung ke Pulau Jeju untuk mengikuti pameran seni rupa di Jeju Museum of Contemporary Art.

Salah satu acara penting yang diagendakan untuk kami selama berada di Jeju adalah ziarah ke kompleks Jeju April 3 Peace Park. Terbentang di lahan seluas lebih dari 20 hektar, lebih spektakuler daripada kompleks May 18th National Cemetery di Gwangju, kompleks Jeju April 3 Peace Park di Jeju juga sebuah monumen untuk korban sipil. Situs di Jeju memiliki kuburan, tugu, dan patung-patung monumental, gedung persembahyangan dengan dinding bergurat data identitas mendiang, museum besar, taman dan sebagainya. Namun berbeda dengan kuburan di kompleks May 18th National Cemetery di Gwangju, di bawah ribuan nisan kuburan di kompleks Jeju April 3 Peace Park tidak terbaring jasad manusia. Kuburan ini makam simbolis untuk mengenang lebih dari 3.000 warga Jeju yang hilang dalam tragedi pembantaian anti-komunis selepas Perang Dunia II.

Kompleks Jeju April 3 Peace Park dibangun untuk mengenang sekitar 30.000 warga Jeju korban pembunuhan massal yang dilakukan pasukan militer dan paramiliter Korea untuk memadamkan ”pemberontakan komunis”. Dikenal sebagai ”Sasam”, tragedi pembantaian kolosal terhadap rakyat Jeju yang dituduh ”komunis” ini dimulai pada 3 April 1948 dan berlangsung sampai tahun 1949.

Dalam skala jauh lebih kecil dan kurang megah dibandingkan kompleks Jeju April 3 Peace Park, di Jeju juga terdapat monumen lain untuk korban pembantaian, Seotal Oreum Massacre Site. Berlokasi di lahan pertanian, dekat tebaran bekas hanggar-hanggar peninggalan Jepang dari Perang Dunia II, situs ini berupa altar persembahyangan kecil dengan dinding bergurat nama -nama korban, dan dua lubang galian tempat sejumlah warga sipil dihabisi nyawanya. Seotal Oreum Massacre Site dibangun untuk mengenang sekitar 210 warga Jeju yang dibunuh aparat keamanan Korea selama Perang Korea pada 1950, lagi-lagi karena mereka dituding ”komunis”.

Film dokumenter

Seusai menonton film dokumenter Tragedi Gwangju yang juga memuat cuplikan sidang pengadilan mantan Presiden Chun Doo-hwan pada 1996, dalam hening suasana May 18th National Cemetery di Gwangju menjelang senja, tiba-tiba saya teringat monumen-monumen sejarah di Indonesia modern. Kebanyakan monumen terkenal peringatan peristiwa bersejarah di negeri kita memuliakan militer atau aksi heroik militeristik. Kita punya Monumen Yogya Kembali (Yogyakarta), Monumen Bandung Lautan Api (Bandung), Monumen Palagan Ambarawa (Ambarawa), Monumen I Gusti Ngurah Rai (Bali), Tugu Pahlawan, Tugu Bambu Runcing, Monumen Kapal Selam, Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), dan masih banyak lagi. Seolah- olah perjuangan dan kepahlawanan selalu bermakna keperwiraan di medan laga. Seakan sejarah Republik Indonesia hanya dibangun oleh jawara kekerasan, tanpa jasa tak terhingga orang biasa yang terempas sebagai korban kekerasan.

Di Indonesia, monumen untuk mengenang warga sipil korban tragedi bersejarah amat langka. Ada Monumen Pancasila Sakti untuk mengenang tujuh jenderal yang tewas dibunuh pada 1965, tetapi tak ada monumen untuk mengingat 500.000–1 juta nyawa rakyat yang direnggut guna membayar pembunuhan para petinggi militer itu. Tak ada monumen Peristiwa Tanjung Priok 1984, tak ada monumen Peristiwa 27 Juli 1996, tak ada monumen Penghilangan Paksa Aktivis Pro Demokrasi 1997/1998, tak ada monumen Korban DOM Aceh, tak ada monumen untuk banyak tragedi kemanusiaan lainnya di negeri kita. Syukurlah, sekarang sudah ada Monumen Tragedi Mei 1998. Namun, Indonesia belum bisa membanggakan taman makam pahlawan untuk warga sipil dan belum mampu mengadili jenderal pelanggar hak asasi manusia. Bangsa kita masih harus banyak belajar untuk lebih menghormati korban kebrutalan sejarah.

Monumen untuk mereka yang terempas di altar sejarah tidak dibangun demi mengabadikan luka. Alih-alih, justru untuk menyembuhkan luka dengan mengedepankan pesan kemanusiaan, rekonsiliasi, dan perdamaian. Monumen korban sejarah merawat ingatan kelam sebagai pelajaran berharga untuk generasi mendatang agar tragedi tidak terulang. Seakan terembus angin dingin sore akhir musim semi Gwangju, kata-kata Gao Xingjian, pemenang Nobel Sastra 2000, terngiang di telinga: ”Ingatan tidak diwariskan seperti gen. Manusia punya pikiran, tetapi tidak cukup pintar untuk belajar dari masa lalu….

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Bagus Prasetyo


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 5 Juli 2015