Orang Tua | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Orang Tua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:42 pm Rating: 4,5

Orang Tua

”Saya masih tinggal sama mertua, Mas. Mertua saya enggak ngasih saya dan suami punya rumah sendiri karena kalau kami punya rumah sendiri, dia bakal hidup sendirian. Anak-anaknya yang lain sudah tak lagi tinggal di rumah.”

Di suatu malam sehabis pulang kerja, saya mendengar ucapan itu yang awalnya hanya sebuah percakapan ringan. ”Kamu tinggal di mana?”

Hak milik

Penjelasan wanita muda itu mengingatkan saya kepada seorang laki-laki berusia 30 tahun berpenghasilan lumayan, tetapi sampai usianya ”setua” itu, ia masih tinggal bersama orangtuanya. Pernah sekali waktu saya menyarankannya untuk mencari tempat tinggal sendiri.

Kemudian ia menjelaskan, kalau ibunya tak mengizinkan dengan alasan di rumah besar tempat tinggalnya itu hanya tinggal ibu dan ayahnya. ”Mama tu ngomong gini, Mas. Untuk apa mesti cari tempat tinggal, la wong di rumah ini kosong kok. Kalau nanti ada apa-apa kamu bakal sendiri, siapa yang akan merhatiin kamu. Di sini ada papa sama mama,” jelasnya.

Dua cerita di atas itu, sebuah cerita klasik, dan bukan hal yang mengagetkan. Tetapi baru sekarang ini, cerita klasik itu mengusik hati dan menimbulkan berjuta pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah, kapan selayaknya orangtua dengan legowo melepaskan anaknya untuk berdiri di kakinya sendiri? Apakah buat orangtua, anak itu dilahirkan bukan untuk dihormati bahwa mereka bisa berdiri sendiri?

Ia yang bercerita di kalimat pembuka tulisan ini, bahkan sudah bercita-cita membeli rumah sendiri bersama suaminya, tetapi mertua perempuannya selalu menampik dengan sejuta alasan. Salah satu alasannya, karena rumah yang mereka pilih, lokasinya terlalu jauh dengan lokasi kediaman mertuanya. ”Yaa sudah pasti jauh Mas, la wong uang kami hanya bisa membeli di tempat yang jauh itu.”

Mendengar ceritanya itu, keinginan bertanya semakin menjadi-jadi. Apakah orangtua itu merasa mempunyai anak, itu sama dengan memiliki anak? Mempunyai hak milik atas kehidupan anak? Jadi seperti hak milik atas tanah atau rumah. Sehingga seumur hidup orangtua itu berhak melakukan apa saja, termasuk nimbrung urusan rumah tangga anak. Dan selalu merasa keputusan anak itu tidak bijak karena jam terbang sebagai orangtua belum sebanyak mereka. Begitu? Padahal pada saat mereka memutuskan menjadi orangtua, mereka juga memiliki jam terbang yang rendah.

Cinta buta

Apakah mengurus kehidupan anak yang sudah pantasnya mengurus diri sendiri itu, sebuah bentuk cinta sejati orangtua terhadap anak? Atau sebuah bentuk cinta buta orangtua terhadap anak?

Saking butanya, melihat bahwa punya anak itu, sama dengan punya aset yang tak mungkin dilepaskan, yang begitu bernilai, sehingga tak mungkin dibiarkan berkembang dengan cara mereka sendiri, tetapi dengan cara orangtuanya.

Apakah buat orangtua memiliki anak itu bukan hanya sekadar membuktikan bisa memberi keturunan, melainkan juga sebagai investasi dan atau asuransi masa depan ketika mereka sudah tak berdaya lagi?

Tak berdaya ditinggal sendiri dan kesepian sehingga anak dan menantu harus senantiasa menemani. Takberdaya melihat bahwa anak yangkecil dahulu sekarang memiliki kehidupan yang berbeda, yang tak bisa lagi dikontrol, karena mereka memiliki pendapat dan cara pandang yang tak sama, yang melihat kalau pendapat orangtuanya sungguh sebuah pendapat yang terlihat terlalu ketinggalan zaman.

Apakah menjadi orangtua dengan segala naik turunnya, bersusah payah membiayai kehidupan anak, menabung untuk masa depan anak, memerlukan imbalan dari anak? Apakah orangtua itu, ketika melakukan kerja keras sampai pontang-panting, menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sebuah hal yang wajib dilakukan orangtua, sebuah hal yang biasa dan bukan yang luar biasa. Seperti layaknya seorang dokter bisa menyembuhkan pasien, itu bukan hal yang luar biasa. Itu sungguh biasa banget.

Karena seorang dokter belajar begitu lamanya untuk tujuan itu. Apakah seorang dokter meminta imbalan agar ia dianggap dokter yang luar biasa dan pasiennya berutang budi kepadanya? Tidak, bukan? Mereka memang sekolah untuk bisa dapat menyembuhkan, bukan untuk mendapat imbalan dihormati atau dianggap superpandai.

Apakah ketika seseorang memutuskan menjadi orangtua, mereka menyadari risiko yang akan dihadapi? Risiko ”kehilangan”, kecewa, dan bukan hanya sekadar bersukacita menikah, bangga bisa punya anak, terus kemudian berharap dapat imbalan, dan menjadikan anak sebagai sebuah tumpuan, dan sebagai sebuah taman bermain untuk hak kepemilikan itu.

Apakah sedari anak masih kecil, tanpa disadari orangtua menanamkan rasa bersalah pada anak, sehingga di suatu hari, ketika mereka membutuhkan tumpuan, maka rasa bersalah yang sudah tertanam dijadikan senjata yang ampuh agar anak dengan mudah menurut seperti kerbau tercucuk hidung?

Saya tak pernah menjadi orangtua, tak pernah merasakannya. Maka, saya mengajukan pertanyaan di atas setelah mendengar percakapan dengan seorang menantu, di suatu malam, di garasi kantor.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Samuel Mulia


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 5 Juli 2015