Padang-Bukittinggi | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Padang-Bukittinggi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:43 pm Rating: 4,5

Padang-Bukittinggi

Salah satu yang sangat menggairahkan di Sumatera Barat adalah makanannya. Perjalanan kali ini, beberapa hari sebelum Ramadhan lalu, dimaksudkan untuk survei bagi proyek pertunjukan ”Indonesia Kita” yang beberapa tahun terakhir rutin tampil di Taman Ismail Marzuki. Bersama Agus Noor, sutradara dan penulis cerita, tak ketinggalan pimpinan produksi Zulita dan asistennya Eka, dijemput oleh teman baik, staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang, Undri, kami menuju Bukittinggi.

Persis sebelum memasuki Bukittinggi, di antara ngarai dan lembah, kami berhenti di warung di pinggir jalan. Di warung sederhana itu kami melihat bagaimana lamang dibuat. Ketan dengan di dalamnya pisang dimasukkan dalam batang bambu dibakar di atas kayu-kayu menyala. Pisang mengeluarkan buih dan aroma wangi. Kami menikmatinya dengan kawa daun, minuman panas yang disedu dari daun kopi. Kopi dari Seattle pun tak bakal mampu menandingi minuman hasil dari kearifan lokal ini.

Orang setempat berseloroh, kawa daun muncul karena proses kolonialisasi. Biji kopi dibawa Belanda. Masyarakat setempat meminum daunnya. Entah benar atau tidak, namun makanan-minuman jelas tak bisa dipisahkan dari proses kebudayaan.

Bahkan lahirnya sivilisasi adalah karena makanan. Dengan ditemukannya api, manusia mulai mengolah apa yang dimakannya. Itulah yang kemudian membuat manusia berevolusi secara berbeda dibanding spesies lainnya.

Dalam proses pembentukan kebudayaan, makanan mendahului bahasa yang baru muncul sekitar 100 ribu tahun lalu. Sebelum bahasa muncul, manusia berkomunikasi dengan gerak, dengan tari. Komunikasi terbatas pada kepentingan keberlangsungan hidup. Oleh karenanya, seni yang berupa komunikasi dalamgerak itu pun, umumnya urusannya berhubungan dengan kesuburan dan makanan.

Di Bukittinggi pula kami bertemu anak muda yang sedang dengan gigih melakukan pendokumentasian musik dan lagu-lagu lama. Menurut dia, lagu-lagu Sumatera Barat selalu bersangkutan dengan geografi, makanan, dan kerajinan. Bukankah ini modal luar biasa kalau dikaitkan dengan keinginan pemerintah menggalakkan pariwisata dan ekonomi kreatif? Ia tunjukkan rekaman video olahannya. Salah satunya yang pasti dikenal banyak orang adalah ”Bareh Solok”, tentang beras yang luar biasa pulen dari daerah Solok.

Kesadaran seperti inilah yang tidak terdapat di sebagian besar tempat di Indonesia. Di Sumatera Barat, terasa perjuangan untuk memelihara kekhasan yang membentuk kebudayaan mereka, termasuk sumber-sumber makanannya: beras dari Solok, kelapa dari Pariaman, cabai dari Bukittinggi, dan seterusnya.

Mereka bendung desakan modal besar dari luar. Anda tak akan menemukan jaringan supermarket semacam Alfamart atau Indomart. Begitu pun jaringan studio film. Di Padang Anda masih menjumpai gedung-gedung bioskop model lama, antara lain seperti bioskop Karya di tengah keriuhan pasar. Kalau para sineas Indonesia mampu menyuplai kebutuhan masyarakat di daerah-daerah dengan film-film yang bercita rasa enak seperti makanan lokal, kemungkinan dunia film Indonesia akan berkembang sehat. Problemnya, kata Agus Noor, semua sineas Indonesia ingin jadi seperti Quentin Tarantino.

Di Bukittinggi kami mengunjungi Sanggar Saandiko, pimpinan Edi Elmitos. Edi adalah guru kesenian sebuah sekolah dasar. Masa mudanya dulu dia pemain band rock. Kini, dalam sanggarnya, ia olah randai, silat, musik tradisional, menjadi tampilan bersuasana kontemporer. Proses revitalisasi budaya yang sangat imajinatif.

Bukittinggi, kota di ketinggian kurang lebih 950 meter di atas permukaan laut, sekitar dua jam dari Padang, adalah kota yang cantik dan anggun. Andai lebih bersih, dia bakal anggun luar dalam seperti Bung Hatta yang berasal dari situ.

Senja datang di Bukittinggi, dan kabut pun turun dalam imajinasi kami.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bre Redana


[2] Tersiar di surat kabar "Kompas" pada 28 Juni 2015