Dongeng Binatang sampai Hemingway | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Dongeng Binatang sampai Hemingway Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 2:00 pm Rating: 4,5

Dongeng Binatang sampai Hemingway

Karya-karya Ernest Hemingway, seperti novel The Old Man and the Sea atau cerpennya ”The Snows of Kilimanjaro”, sudah banyak dikenal pembaca. Kedua kisah yang masing-masing menceritakan prinsip kehidupan seorang nelayan tua di Kuba, dan jejak safarinya di Afrika itu, telah dianggap sebagai rangkaian puncak-puncak karya pengarang dan wartawan terkenal Amerika abad ke-20 tersebut. Tetapi, mungkin tidak banyak yang memperhatikan bahwa Hemingway, pemenang Hadiah Nobel bidang sastra tahun 1954 itu, juga menulis dua buah dongeng tentang binatang pada akhir masa hidupnya.

Fabel tentang binatang yang ditulisnya untuk seorang anak temannya itu mengisahkan kehidupan singa yang baik dan singa-singa yang jahat di Afrika (The Good Lion) dan yang lainnya mengisahkan seekor banteng yang gagah perkasa (The Faithful Bull). Seperti lazimnya fabel, kedua dongeng tersebut sesungguhnya bertujuan menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang.

Kita di Indonesia sangat akrab dengan dongeng-dongeng binatang yang bahkan telah mampu menjadi kutipan/pepatah dalam pergaulan hidup sehari-hari. Seperti misalnya kancil telah menjadi lambang kecerdikan. Karena itu, orang yang cerdik sering diibaratkan seperti ”kancil”.

Penulis Ernest Hemingway di antara tentara AS ketika menuju Normandy pada Perang Dunia II, 1944.
Di Bali terkenal kumpulan fabel Carita Tantri. Dalam kepustakaan Bali, cerita Tantri dituturkan dalam berbagai macam bentuk: kakawin, kidung, parikan, geguritan, gancaran, dan prasi. Bahkan kemudian berkembang di masyarakat menjadi bentuk tari dan wayang. Bersumber dari India, kisah Tantri disebutkan telah menyebar sampai ke Syria Kuna dengan nama Kalilag va Dimnag, ke Arab dengan nama Kalilah va Dimnah, Tiongkok (Tantrai, Tantai, Kantrai), serta ke Yunani, Rusia, Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, di samping ke negara-negara di kawasan ASEAN (Pasek, 1999).

Di antara yang sering dikutip adalah kisah tentang Cangak Maketu atauPedanda Baka. Ini adalah dongengtentang burung cangak (bangau) yang menemui ajalnya karena terlaluserakah. Si Cangak berpura-pura menjadi seorang pendeta lengkap dengan mahkota (ketu), seolah-olah telah berhasil menghilangkan segala sifat buruknya. Dia juga berpura-pura tidak mau makan ikan lagi. Begitu sempurnanya pengelabuan si Cangak sehingga ikan-ikan tidak takut lagi kepadanya, bahkan banyak yang ingin berguru tentang ilmu kesucian kepada dirinya.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Cangak. Setelah beberapa lama berusaha memberikan pelajaran tentang ilmu kesucian, akhirnya pada suatu hari Cangak berpura-pura lagi sangat sedih. Dia mengaku telah mendengar kabar bahwa penduduk akan datang ke telaga itu untuk menjaring semua isinya. Tentu saja semua ikan menjadi sangat cemas, sedih, dan takut. Dengan memelas, mereka menyerahkan nasib mereka kepada Cangak untuk diselamatkan.

Setelah memastikan bahwa ada telaga lain yang sama bening airnya, si Cangak menyanggupi akan segera memindahkan ikan-ikan itu ke telaga yang baru tersebut. Seekor demi seekor ikan-ikan itu kemudian dibawanya pergi. Tetapi, bukan ke sebuah telaga, melainkan ke suatu tempat di mana dia dapat memakan ikan-ikan tersebut dengan leluasa.

Kejahatan

Namun, tidak ada kejahatan yang berlangsung sempurna. Ketika terakhir memindahkan si Kepiting, matanya yang awas melihat sisa-sisa tulang ikan berserakan. Kepiting tidak mau turun atau melepas pegangannya pada leher si Cangak. Ketika dipaksa, Kepiting justru mempererat jepitannya dan minta agar dibawa kembali ke telaga semula. Cangak terpaksa menuruti. Setelah tiba, si Kepiting malah mengeraskan jepitan kedua tangannya sampai Cangak menemui ajalnya. Begitulah nasib mereka yang terlalu serakah. Bisakah kisah Cangak Maketu ini menggambarkan tingkah laku sebagian masyarakat kita dewasa ini?

Hemingway dengan bahasanya yang padat dan lugas tiba-tiba melempar imajinasi kita secara kontras dalam dongeng-dongeng binatangnya. Misalnya dalam The Good Lion, dia melukiskan keadaan singa-singa yang jahat sebagai pemakan rusa, kijang, dan para pedagang Hindu yang umumnya bertubuh subur. Sebaliknya singa yang baik memiliki sayap di punggungnya, bisa terbang, dan makanannya adalah pasta (masakan Italia) dan scampi (sejenis udang besar). Karena itu, singa ini sering makan di sebuah bar, seperti manusia.

Bacalah dialog singa yang baik dengan ayahnya, setelah tiba kembali dari petualangan ke Afrika.

”How was Africa?” his father said.

”Very savage, father,” the good lion replied.

”We have night lighting here now” his father said.

”So I see,” the good lion answered like a dutiful son.

”It bothers my eyes a little,” his father confined to him. ”Where are you going now, my son?”

”To Harry’s Bar,” the good lion said.

”Remember me to Cipriani and tell him I will be in some day soon to see about my bill,” said his father.

Jangan bertanya pesan apa yang ingin disampaikan Hemingway dengan dongeng-dongeng binatangnya yang surealis dan dekonstruktif ini. Pesan-pesan itu akan muncul dari penghayatan bawah sadar kita masing-masing sehingga bersifat multitafsir. Hemingway yang bernama lengkap Ernest Miller Hemingway lahir pada 21 Juli 1899 dan wafat 2 Juli 1961. Pada 21 Juli 2015 lalu, orang mengingat angka 116 tahun hari kelahirannya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya 
[2] Pernah etrsiar di surat kabar "Kompas" Minggu 2 Agustus 2015