Kemerdekaan dan Orang Mencari Suaka | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Kemerdekaan dan Orang Mencari Suaka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 2:32 pm Rating: 4,5

Kemerdekaan dan Orang Mencari Suaka

SAYA Kevin dari Australia. Tahun 1979 kawin dengan wanita Yogya. Saat ini dan hampir setiap tahun berada di Yogyakarta, terutama menjelang Kemerdekaan RI. Saya tidak tahu persis, ada perasaan gembira dan kehangatan tersendiri tentang Indonesia. Barangkali karena suatu waktu, awal-awal di Yogya pernah mengingat dan menyaksikan perayaan Kemerdekaan RI di Gang Johar Janti Yogyakarta.

Waktu itu, di Gang Johar ada 4 wanita dari kampung Sosrowijayan, --- asal istri saya. Istriku tinggal di kampung itu, sebelum pindah ke Australia.

Pada saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, melihat sejumlah realitas. Mungkin bagi orang Indonesia itu biasa-biasa saja, seperti setiap rumah memasang bendera merah putih. Ada malam pula Malam Tirakatan mengenang Kemerdekaan RI.

Bahkan sebelumnya melihat penduduk membawa nasi untuk didoakan dengan agama yang ada. Apakah ini merupakan tanda-tanda bentuk kerukunan beragama? Apakah ini tanda bentuk kebersamaan itu? Ini menarik dan unik.

Tak hanya itu, saya sempat berbicara sambil pegang sekop. "Lihatlah wanita-wanita dari kampung. Hari ini kita semua menjadi saksi bahwa memang sudah ada revolusi besar di Indonesia. Segala-galanya sudah terbalik yang dulu di bawah, sekarang di atas. Dulu di atas sekarang di bawah,"  Maksudnya Indonesia dulu dijajah sudah merdeka, dulu tertindas sudah merdeka bergerak dan berbicara.

Meski saya orang Australia, saya merasa bangga dengan perayaan Kemerdekaan RI. Pernik-pernik unik seperti lomba beraneka ragam dan kreativitas seni-budaya muncul di kampung-kampung. Ini sebuah realitas seni budaya yang menarik untuk dicatat dan didokumentasikan.

Seingat saya, orang Australia, terutama kaum Persatuan Pelabuhan di negeri saya simpati proses revolusi nasional RI. Setelah kaum Belanda mau kembali ke Indonesia, saat Jepang sudah kalah. Buruh Australia di pelabuhan menghadang kapal-kapal Belanda yang membawa tentara dan senjata dari Australia ke Indonesia untuk mengembalikan jajahan lagi.

Saya sendiri pernah berbicara dengan penduduk di sekitar Gang Johar, "Lihatlah situasi pada hari ini, 100 tahun lalu kaum Belanda dapat duduk di bawah pohon dan tertawa-tawa sambil melihat kuli-kuli Indonesia yang bekerja di saat panas matahari. Dibandingkan dengan zaman dulu, kaum Indonesia modern sekarang dapat duduk-duduk di bawah pohon sambil melihat orang 'landa' bekerja sebagai kuli di saat panas matahari. Saya sebagai orang Australia, tetapi penduduk di kampung tetap saja disebut sebagai 'landa', sebagai 'bule' dianggap sebagaimana orang Belanda, penjajah.

Saya sendiri bertahun-tahun sudah melihat, penduduk Indonesia sudah memerintah di negerinya sendiri. Rakyat Indonesia mulai mandiri dan merdeka. Orang Indonesia dengan bangga menjadi nakhoda kapal sendiri, pilot pesawat sendiri dan duduk di sebelah semua pemimpin negeri lain. Bukan menjadi kuli lagi.

Saat menjelang perayaan Kemerdekaan RI, juga melihat wanita-wanita dan laki-laki Indonesia waktu perayaan Kemerdekaan RI, menurunkan atau menaikkan bendera merah putih dari galah bambu yang ada di sepanjang jalan dan gang-gang. Kemudian anak-anak lari bersama-sama sepanjang Gang termasuk Gang Johar sambil mengibaskan bendera kecil. Tak hanya itu berteriak, "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" . Ini tentu sebuah nasionalisme yang menggembirakan. Setidaknya pandangan saya sendiri melihat peristiwa itu. Nasionalisme memang seharusnya merdeka dalam berbagai lini kehidupan.

Mencari Suaka
Dalam perayaan Kemerdekaan RI, saya tiba-tiba teringat orang-orang yang mencari suaka di Australia.Saya seperti warga negara Australia lainnya sudah lama merasa malu. Menurut pendapat saya, kebijakan politik dan tindakan-tindakan pemerintah Australia terlalu keras dan kejam. Sering digambarkan orang-orang yang mencari 'asyil' atau suaka seperti kaum jahat. Pertama, menurut hukum internasional, bukan tindakan kejahatan kalau yang menderita mencari suaka. Ini hak semua manusia. Kalau orang pikir akan dibunuh siapa yang berkata mereka salah karena tidak punya dokumen atau paspor. Maka sekarang ada orang dari negeri Iran, Irak, Seria, Sri Lanka dan Myanmar, misalnya yang lari karena takut akan dibunuh.

Saya pikir lebih adil kalau pemerintahan Australia akan memproses orang-orang yang mencari suaka di dalam tanah sendiri dan berhenti mengirim orang-orang yang naik kapal menuju Australia ke tempat seperti Pulau Chrismas.

Pemerintah Australia sering berpendapat, soal orang yang mencari suaka ialah soal penjagaan batasan Australia dan keamanan. Menurut pendapat saya, problem ini pada dasarnya memang problem politik
yaitu banyak penduduk Australia masih takut tentang jumlah penduduk di negeri Asia.

Masih hidup di dalam jiwa orang Australia ketakutan 'Yellow Peril' , artinya ada risiko akan nanti terjadi banjir orang dari Asia yang akan mendorong semua penduduk Australia ke laut Kontineat Australia luas sekali dan pada dasarnya 'kosong'. Hanya ada 22 juta penduduk tinggal di tepi laut.

Ketakutan 'yellow peril' timbul pada zaman histeria tentang emas. Pada selat Australia New South Wales kemudian di Selat Victoria pada tahun 1851 orang menemukan emas. Kemudian orang dari banyak negeri dunia tergesa-gesa ke Australia. Ada ribuan buruh tambang dari China. Orang Australia dan Eropa tidak kompetisi dan juga kaum China lebih rajin. Pemeruhan Australia membikin hukum rasisme dengan tujuan menghentikan supaya orang Asia datang ke Australia. Sudah hukum rasisme itu hilang, tetapi ketakutan 'yellow peril' belum, hilang dari hati penduduk.

Maka saya setuju, setiap negeri harus mengontrol kedatangan orang dari negeri lain. Hanya saja acara kontrol harus menurut hukum internasional dan harus murah hati. Sering saya merasa sakit hati tentang tindakan pemerintah terhadap orang mencari suaka.

Saya pikir pemerintah Australia meletakkan orang yang mencari suaka di Chrismas atau pulau lain yang memang diperuntukkan bagi pencari suaka. ❑ - k

Kevin Hartshorne, guru bahasa Inggris dan warga Australia. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kevin Hartshorne
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 16 Agustus 2015