Rasisme Seksual, yang Juga Seksis | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Rasisme Seksual, yang Juga Seksis Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:04 am Rating: 4,5

Rasisme Seksual, yang Juga Seksis

Sepak bola amat cantik sebagai pertandingan. Namun, di seputarnya kerap terdapat hal-hal yang kurang cantik, yang mengungkap segi-segi primer masyarakat. Mungkin Anda mengingat skandal yang beberapa waktu yang lalu melibatkan tiga pemain Leicester Club di Inggris? Tak cukup pemain itu menyewa "jasa" pelacur Thailand dan menyebarkan kebolehannya di U-Tube, tetapi mereka menyertai adegannya dengan makian rasis: slit eye (mata sipit). Seolah wanita Asia bukan hanya wajar dibeli, tetapi wajar dicemooh secara rasial! Seksisme bersanding dengan rasisme!

Anehnya, rasisme bernuansa seksual ini jarang dibicarakan. Apakah karena tidak disadari? Bisa jadi demikian.

Di Indonesia, hal-ihwal dominasi Barat sudah lazim dibicarakan. Sudah lama digugat secara politik, seperti kita diingatkan besok, Ulang Tahun Ke-70 RI. Sudah lama dominasi juga diungkap kehadirannya di dalam ranah kultural, terutama sejak Edward Said, di dalam buku Orientalisme (1978) memperlihatkan bagaimana sebagian besar dari wacana seni dan sastra Barat tentang Timur menawarkan suatu "pengetahuan" yang sarat prasangka, sebagai penyangga dari imperialisme politik. Akan tetapi, jarang terdengar di negeri ini adanya upaya pembongkaran serupa, apalagi protes, untuk mengecam pandangan seksual reduktif nan rasis yang menghinggapi pikiran (cukup banyak) orang Barat mengenai wanita "Timur".

Sedari awal penjajahan, pria Barat memang boleh seenaknya "mengambil" wanita Timur, tanpa pernah "memberikan" wanita Barat sebagai imbalan. Pantang: kuasa politik adalah juga kuasa seksual. Para nyai, alias bini pribumi kaum kolonial yang kesohor itu, adalah wujud nyata dari ketimpangan bernuansa rasis ini. Bisa jadi wanita itu diidealkan, seperti "Madame Butterfly" atau Nyai Ontosoroh, tetapi mereka tetap korban. Seusai Perang Dunia Kedua dan gelombang kemerdekaan, situasi tidak banyak berubah. Sistem layanan seksual khusus yang diberikan kepada serdadu, lalu kini kepada wisatawan Barat di Korea, Vietnam, Thailand, Filipina dan lain-lain-dan di Indonesia, mempertegas lagi konstruksi wanita Asia sebagai layak "diambil", "dibeli", pendeknya mudah diakses dan ditiduri. Bahkan, kini ketersediaan seksual wanita Asia dan rasisme seksual terkait, baik terselubung maupun tidak, telah menjadi inheren pada sebagian film Hollywood tentang Asia-yang memang kerap dianggap aktivis tertentu "bertugas" mewacanakan imperialisme Amerika.

Maka tidak mengherankan jika aneka fantasi vulgar tentang ciri-ciri psikologis dan kecanggihan seksual "khas wanita Asia", masih tetap hadir, sadar atau tidak sadar, di benak banyak orang Barat. Cukup nongkrong di bar-bar Kuta atau Kemang untuk menyadari hal yang aneh. Bukan "pariwisata budaya" atau bahkan perdebatan intelektual tentang "Orientalisme" yang menarik perhatian langganan bule yang rada "primer" ini, tetapi ketersediaan wanita yang "diajak kencan" karena "berbeda" secara rasial.

Apakah gugatan saya ini berlebihan? Saya mengira tidak. Baru-baru ini, naik pesawat, saya tak kurang dari tiga kali sempat bersebelahan kursi dengan penumpang bule yang mengaku gamblang datang khusus untuk mencari perempuan. Lebih jauh lagi, lihatlah saja pola hidup dari (sebagian) ekspatriat pria-terutama generasi tua. Bukankah rata-rata teman prianya semuanya sesama bule, sedangkan teman wanitanya semuanya orang Indonesia. Tepat seperti pada zaman para nyai: yang diambil dari "the other" (yang diliankan) hanya wanitanya. Wanita "dipakai", pria dianggap remeh. Rasisme seksual ini, meskipun bentuknya lebih lunak daripada rasisme terhadap orang hitam dan Arab, seolah terpatri di dalam jalinan multibentuk hubungan antara Barat dan Timur.

Bagaimana sikap ini dilawan dan diatasi? "Ironi sejarah" pernah dicoba oleh sejumlah pejuang kemerdekaan: tidak sedikit di antaranya yang menegaskan pemberontakan politiknya dengan sengaja meniduri wanita Barat, sebagai istri sah atau tidak. Tetapi, itu pun tidak bebas dari ambiguitas rasial-rasis yang juga seksis. Lalu bagaimana? Menurut Anda, apakah pembongkaran terbuka terhadap praduga ini pantas dianjurkan oleh seorang "hidung panjang", lagi bule, seperti saya ini? Tergantung konotasi yang Anda berikan pada istilah bule itu, kan? He-he. Merdeka.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jean Couteau
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 16 Agustus 2015