Strategi Estetik Kuntowijoyo dan Umar Kayam | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Strategi Estetik Kuntowijoyo dan Umar Kayam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:37 pm Rating: 4,5

Strategi Estetik Kuntowijoyo dan Umar Kayam

STRATEGI estetik selalu dibutuhkan bagi setiap penulis karya sastra, baik cerpen, novel maupun puisi. Strategi estetik bisa dipahami sebagai pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan perwujudan/pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi dalam melahirkan karya seni (dalam hal ini sastra). Terkait dengan hal tersebut, menarik untuk dibahas proses kreatif dua sastrawan besar Kuntowijoyo dan Umar Kayam.

Pendekatan secara konseptual yang paling mendasar bagi Kuntowijoyo dan Umar Kayam adalah pemahaman bahwa karya sastra (cerpen) bukan tiruan mentah atau copy paste realitas, melainkan hasil penafsiran atas realitas. Dalam penafsiran terjadi transformasi estetik melalui (1) eksplorasi dunia pengalaman baik pengalaman sosial, pengalaman budaya, maupun pengalaman estetik, (2) pengolahan simbol-simbol dan (3) sudut pandang yang berbeda dari yang sudah ada/umum. Artinya, cerpen selalu beyond of reality atau hasil transendensi sang kreator atas realitas. Ada jarak estetik antara cerpen dengan realitas. Cerpen akhirnya menjelma menjadi dunia alternatif atau dunia subversif dari dunia realitas, karena menyodorkan peristiwa dan nilai yang berbeda (baca: versi lain) dengan realitas yang sudah menjadi pengetahuan umum masyarakat.

Kuntowijoyo dan Umar Kayam juga melakukan riset baik secara sosial maupun secara pustaka untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Dengan riset tersebut Kuntowijoyo mampu melahirkan cerpen-cerpen yang memiliki kekuatan ide dan tema-- misalnya Anjing-anjing Menyerbu Kuburan, Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Pistol Perdamaian . Dalam tiga cerpen tersebut, Kuntowijoyo sangat menguasai tema dan persoalan yakni tentang mitologi masyarakat Jawa (misalnya soal pesugihan, daya linuwih dan jimat bertuah) yang dibenturkan dengan nilai-nilai modern (pandangan
rasional) dan moralitas. 

Umar Kayam dengan kemampuan riset dan merekam pengalaman personal, sosial, politik dan kultural mampu melahirkan cerpen-cerpen yang kuat, indah, menyentuh dan memiliki masa depan kultural. Sebut misalnya Bawuk yang berlatar belakang revolusi sosial 1965 yang memakan banyak korban dan menyimpan tragedi besar dan memilukan. Umar Kayam pernah bercerita kepada saya bahwa cerpen itu ditulis sebagai refleksi diri atas gebalau revolusi yang mengantarkan lahirnya sebuah rezim (Orde Baru). Di situ ia mengungkapkan kebimbangan dan ketidakmengertiannya dengan pergantian Orde Lama menjadi Orde Baru pada masa itu.

Perubahan Kualitatif Terkait gaya penyampaian atau gaya penulisan cerita Kuntowijoyo punya pendekatan dalam menyiasati sastra majalah dan koran. Dalam buku kumpulan cerpen Hampir Sebuah Subversi (Grasindo,1999) dia mengatakan bahwa sastra koran telah mengubah semuanya. Secara kuantitatif seorang cerpenis harus memotong separo dari kebiasaannya: biasa menulis 12 halaman sampai 16 halaman kemudian harus mencukupkan diri dengan enam sampai delapan halaman.

Perubahan kuantitatif itu harus disertai dengan perubahan kualitatif supaya cerpen menjadi karya sastra yang utuh. Kuntowijoyo pun memecahkan persoalan teknis itu dengan mengubah cara bercerita. Yakni, menekankan peristiwa dan menyerahkannya yang lain-lain (kejiwaan tokoh, urutan
peristiwa, lukisan lingkungan (local color) kepada imajinasi pembaca.

Menurut Kuntowijoyo, untuk mengganti keterbatasan sastra koran dirinya memakai teknis deskripsi padat (thick description), yaitu hanya dalam satu peristiwa saja cerpenis melukiskan banyak hal sekaligus. 

Kisah Suasana Umar Kayam dikenal sebagai cerpenis yang piawai berkisah. Seperti seorang pendongeng, ia mampu berkomunikasi secara intim hingga larut dalam cerpennya. Selain pilihan bahasa yang sederhana namun bernas, kekuatan cerpen Umar Kayam adalah pada penghadiran suasana dramatik yang dibangun dari detilasi karakter atau suasana kejiwaan tokoh utama dan tokoh pendukung serta dunia eksterior tokoh (ruang, benda-benda). Kekuatan membangun suasana ini menjadikan cerpen-cerpen 

Umar Kayam tidak skematik atau seperti tidak memiliki rancangan struktur, melainkan kisah (peristiwa dramatik) yang mengalir dan membentuk karakter tokoh-tokohnya serta membangun struktur cerita. Pencapaian ini sangat ditentukan oleh kemampuan Umar Kayam dalam memilih angle kisah (penceritaan) dan pilihan adegan penting pada awal kisah. Biasanya Umar Kayam mengawali
cerita dari peristiwa dramatik yang sangat penting dan berpotensi membuka bagianbagian dari kisah selanjutnya. Ia pun biasa menulis cerpen dari bagian akhir atau bagian tengah yang kemudian bergerak ke depan dan ke belakang. Jarang saya menemukan alur cerpennya yang linear (alfabetik).

Ahmad Nashih Luthfi dalam kajian atas karya-karya Umar Kayam menyebutkan bahwa Rachmat Djoko Pradopo memasukkan Kayam sebagai sastrawan angkatan 50 (1950-1970). Gaya bercerita pada angkatan ini menunjukkan kebaruan dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Yaitu gaya bertutur yang hanya menyajikan cerita saja tanpa menyisipkan komentar, pikiran-pikiran, dan pandangan-pandangan pengarang. 

Alur cerita menjadi padat tanpa digresi. Pembaca memiliki kebebasan untuk menafsir. Ia sekadar memberi gambaran suasana tertentu dan melalui suasana yang terbias dari batin tokoh-tokohnya. Sejumlah tema bisa muncul, pembaca dapat menemukan tema cerita dari banyak segi, sesuai dengan horizon harapan masing-masing. 

Dikatakan Ahmad Nashih Luthfi, karya Umar Kayam membawa genre baru sebagai ‘kisah suasana’. Dalam cerpen maupun novelnya, suasana setting kisah begitu kuat hingga pembaca tenggelam mengimajinasikannya. Ia seorang materialis radikal dalam bersastra dan dalam kesehariannya. Properti-properti yang disajikan untuk mendukung kisah dalam novelnya diuraikannya mendetail. Kemampuan inderawinya menyeluruh dan tajam, mampu menangkap detail-detail dan partikularis. Sebenarnya gambaran semacam ini juga untuk mengatakan style Umar Kayam sebagai ilmuwan.

Dengan strategi estetik masing-masing, Kuntowijoyo dan Umar Kayam telah memberikan kontribusi besar kepada perkembangan dunia cerpen di Indonesia, bukan hanya dalam soal narasi-narasi estetiknya melainkan juga nilai-nilai kulturalnya. Cerpen-cerpen karya dua maestro ini juga bisa dimaknai sebagai penanda penting kebudayaan bangsa kita, sekaligus sebagai arsip kebudayaan di mana kita menemukan fakta-fakta mental bangsa kita di dalam jatuh bangun peradaban. ❑ - k

Indra Tranggono, cerpenis dan pemerhati kebudayaan.

Rujukan:
[1] Disal;in dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 9 Agustus 2015