Suparto Brata, Sastra Jawa Sepanjang Hayat | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Suparto Brata, Sastra Jawa Sepanjang Hayat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:49 pm Rating: 4,5

Suparto Brata, Sastra Jawa Sepanjang Hayat

Di kalangan penulis yang menggunakan bahasa Jawa untuk mencipta, Suparto Brata, biasa dipanggil Pak Parto oleh para koleganya sesama penulis, adalah ikon. Namun, ikon itu, pada 11 September pukul 21.45, telah dipanggil Sang Khalik setelah menderita sakit beberapa lama.

Suparto dilahirkan di Surabaya (tepatnya di Rumah Sakit Simpang, yang sekarang menjadi Mal Surabaya) pada 27 Februari 1932. Awal riwayat hidupnya di bidang pendidikan adalah dari Sekolah Ongko Loro, sekolah dasar bagi anak-anak pribumi di Sragen, SMP di Probolinggo, dan berhasil menyelesaikan pendidikan menengah, di SMA Katolik Jl Dr Soetomo, Surabaya.

"Asune Sena"

Awal kariernya sebagai penulis ketika ia baru saja belajar membaca dan menulis. Adapun karya pertamanya berjudul Asune Sena (Anjing Sena). Tulisan pertamanya sangat sederhana, "Asune Sena, asune Sena loro, asune Sena lemu-lemu. Asune Sena mrana (Anjing Sena ada dua, gemuk-gemuk. Anjing Sena ke sana). Setelah lulus SMP, tulisan tersebut dikembangkannya sehingga menjadi Asune Sena loro, Kancaku jenenge Sena. Dheweke duwe asu loro. Esuk lan sore dipakani sega lan iwak. Mulane lemu-lemu. Sena mlaku mrana. Asune melu mrana.

Perkembangan tulisan Suparto sudah menunjukkan logika, anjing Sena gemuk-gemuk karena tiap hari diberinya makan nasi dan ikan. Di samping itu, Suparto juga seorang kolektor yang baik, karya sewaktu SD masih tersimpan setelah lulus SMP.

Ini salah satu karakter Suparto sebagai penulis. Tekun dan suka mencatat peristiwa. Ternyata, Asune Sena ini terus bermetamorfosis, sampai Asune Sena 5. Karakter penulis yang tidak pernah puas dengan karya pertama dan selalu berusaha memperbaikinya. Tak mengherankan jika di Kota Surabaya, di samping sebagai sastrawan, Suparto juga dikenal sebagai sejarawan.

"Bulan November aku sibuk Mbak, nampa tanggapan!" tulisnya lewat pesan singkat suatu hari. Maksudnya, ia sibuk diundang menjadi narasumber saksi sejarah peristiwa Hari Pahlawan, tiap 10 November. Universitas Airlangga adalah perguruan tinggi yang hampir selalu menghadirkannya sebagai narasumber dalam setiap diskusi tentang Hari Pahlawan.

Sebagai seorang penulis, Suparto cukup produktif. Ia menulis dengan menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Jawa. Ada beberapa novelnya dimuat di Kompas sebagai cerita bersambung, salah satu di antaranya berjudul Kremil, dunia remang-remang di Jarak, Surabaya. Sementara karyanya dalam bahasa Jawa yang sekitar 46 novel terdiri atas bermacam tema. Kisah detektif dengan tokoh detektif Handoko, ada kisah perjuangan di medan perang, misalnya Kadurakan ing Kidul Dringu, sebagian lagi bertema roman. Beberapa di antaranya diinspirasi karya penulis asing, seperti misalnya Pethite Nyai Blorong.

Cita-citanya untuk menulis buku yang tebal sudah beberapa berhasil, baik yang bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, antara lain, Donyane Wong Culika (Dunia Orang-orang yang Curang, yang di dalamnya ada tokoh dengan nama sesuai dengan nama ibunya, Bendara Raden Ayu Jembowati) serta Kerajaan Raminten.

Rancage

Yang belum bisa dicapai oleh penulis berbahasa Jawa lain, Suparto pernah mencapai tiga gelar Rancage. Penghargaan bergengsi di bidang sastra Jawa, yang dipajang di ruang tamunya di Rungkut Asri, Surabaya. Pemasangan penghargaan itu bukan sekadar sebagai kebanggaan, melainkan juga untuk memotivasi penulis-penulis muda agar tekun, produktif, dan terus menulis seperti dirinya. Termasuk kepada para mahasiswa yang meneliti karyanya dan datang ke rumahnya, dipesankannya dengan meneliti buku bahasa Jawa diharapkan buku bahasa Jawa memperoleh posisi yang terhormat, sebagai bagian dari literasi.

Penghargaan Rancage itu terdiri dari dua penghargaan atas karya dan satu penghargaan sebagai pejuang di bidang sastra Jawa. Mengenai penghargaan sebagai pejuang, ia agak malu mengakuinya karena perjuangannya dalam sastra Jawa belum apa-apa. Dalam bukunya Srawungku karo Sastra Jawa (Pergaulanku dengan Sastra Jawa), dengan jujur ia menulis, "Nalika aku nampa surat saka Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, katitimangsa 1 Februari 2000 kang nerangake Keputusan Yayasan Kebudayaan Rancage bab Hadiah Sastra Rancage 2000, yen aku minangka kang nampa hadiyah marga 'jasa-jasaku membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Jawa', aku jan klincutan tenan. Iki mesthi ana salah kedaden". (Ketika saya menerima surat dari Ketua yayasan Kebudayaan Rancage, tertanggal 1 Februari 2000, yang menerangkan Keputusan Yayasan Kebudayaan Rancage bab Hadiah Sastra Rancage, aku sungguh tersipu-sipu. Ini mesti ada yang tidak benar).

Kepada setiap penulis, dia wanti-wanti jangan pernah berhenti menulis. Ia pun memberi contoh. Setiap hari bangun pukul 03.00, membuka komputer yang juga diletakkan di kamarnya. Mengetik sampai shalat Subuh, kemudian berjalan-jalan.

Sementara itu, sebagai pensiunan PNS, uang pensiun serta pendapatan dari menjual buku yang tidak seberapa tidak digunakannya untuk kepentingan pribadi. Ketika seorang sahabatnya menyarankan, "Mbok tuku mobil ta, Mas."(belilah mobil), jawabnya enteng saja, "Ge apa? Mobilku wis sapirang-pirang pating sliri!" (Untuk apa? Mobilku sudah banyak hilir mudik!" Memang, Suparto dikenal sebagai orang yang sederhana, ke mana-mana naik angkot. Kadang-kadang saja menggunakan taksi. Termasuk ketika menghadiri temu sastra Jawa di Bojonegoro, karena sudah tidak ada bus lagi ke jurusan Bojonegoro dari Surabaya, Suparto bermewah-mewah menggunakan taksi! Ketika sampai di Bojonegoro, sambil tersenyum beliau berucap, "Gaya ta, kaya wong sugih!" (28 Oktober 2011).

Maka itu, kekayaannya digunakannya untuk mengembangkan sastra Jawa antara lain dengan mengadakan Lomba Kritik Sastra. Menurut Suparto, sastra Jawa tak akan maju tanpa adanya kritik sastra. Beberapa kali dia mengadakan Lomba Kritik Sastra, terhadap karyanya yang pernah dimuat di Panyebar Semangat, dengan judul, "Cintrong Traju Pat!" (Cinta Segi Empat). Novel terakhir di PS (Panyebar Semangat) yang dilombakan kritik sastra adalah yang berjudul "Sang Pangeran Pati", karya Fitri Gunawan, kemudian beberapa cerkak (cerita pendek) yang dimuat di PS beberapa nomor. Ia selalu menyembunyikan dan tidak pernah menonjolkan dirinya sebagai sponsor. Padahal, hadiah yang disediakannya lumayan jumlahnya, yaitu tiga pemenang masing-masing mendapatkan Rp 2.000.000. Ketika penulis usul, agar jumlah hadiahnya dikurangi supaya pemenangnya lebih banyak. Jawabnya, "Ora ah, wis ben! Mesakne!" (Biar aja, kasihan). Maksudnya jika jumlah hadiahnya dikurangi, kasihan pemenangnya, hadiahnya terlalu sedikit. Kenyataannya para pemenangnya memang penulis kritik sastra yang hebat!

Ketika hasil kritik sastra cerkak selesai, Suparto sama sekali tidak tahu karena sudah terbaring sakit. Penulis pun menawarkan untuk membacakan hasilnya, beliau menggeleng.

Jika selama ini hanya Suparto yang berpikir untuk kemajuan sastra Jawa dengan mengadakan lomba menulis kritik sastra, timbul pertanyaan sekaligus harapan, siapa lagi yang mau menjadi sponsor lomba kritik sastra?

Namun, bagi penulis, ini adalah bukti nyata perjuangan beliau menghidupi sastra Jawa. Tak perlu lagi tersipu-sipu seperti dulu ketika menerima penghargaan Rancage sebagai pejuang sastra Jawa. Semuanya merupakan bukti bahwa Suparto benar-benar "njengkiyeng mbudidaya supaya basa Jawa mekar ngambar ing tataran literasi" (berusaha keras agar bahasa Jawa mekar semerbak di dunia buku).

Kerja keras dan ketekunannya dalam menulis mengantarkannya dua kali terbang ke Bangkok, Thailand. Yang pertama tahun 2007, ia menerima Literacy Awards, yang kedua ketika diundang reuni para penerima Literacy Awards.

Sekarang Pak Parto sudah pulang ke Rangkah, menyusul kedua orangtua serta istri tercinta yang telah menunggu di sana, serta diantar para handai tolan dan sahabat yang ratusan jumlahnya. Selamat jalan, Pak Parto! 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kushartati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 20 September 2015