Menghidupi Sastra Etnik | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Menghidupi Sastra Etnik Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:36 pm Rating: 4,5

Menghidupi Sastra Etnik

Tulisan IB Putera Manuaba, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unair, Surabaya (Kompas Minggu, 6 September 2015 halaman 27), akan menginspirasi banyak pihak. Sastra etnis dalam kacamata antropologi jelas berkaitan dengan manusia sebagai pencipta sastra, bahkan mendekat dengan kebudayaan secara umum.

Jika antropologi linguistik bertugas mengungkap manusia sebagai pengguna bahasa, maka antropologi sastra menyorot manusia melalui wilayah sastra. Betapa tidak, karena para penutur sastra dan pemerhati sastra etnik di belahan Nusantara akan terbangun membaca wilayah medan tutur dan nilai roh sastra miliknya dengan bergairah. Jika demikian, maka fenomena ini telah berhasil menjadi tanda dan makna, bahwa sastra etnik masih dipertahankan dan akan terus dihidupi oleh para penutur terlebih para penciptanya, dan tentu dengan bahasa mereka.

Sama nasibnya tentu dengan bahasa etnis atau dialek dalam ranah kearifan lokal. Jika para pemilik bahasa lokal sudah mulai malu menggunakan bahasanya sendiri dan lebih menyukai bahasa Indonesia, atau bahkan lebih ”merasa” bergengsi menggenggam bahasa asing, maka tunggulah saatnya kematian bahasa dan sastra etnik itu. Penulis lebih menyebut dan menggabungkan sastra etnis dengan bahasa etnis karena peran bahasa lebih dominan menjadi pembungkus budaya etnis, termasuk sastra etnik sebagai wujud budayanya.

Sastrawan Jawa nasional Esmiet (almarhum) meramalkan bahwa bahasa dan sastra Jawa akan segera mati pada jam Sembilan tanggal Sembilan bulan Sembilan tahun dua ribu Sembilan. Walaupun ramalan Esmiet (baca: Sasmito) tidak mempan dan kurang terbukti, setidaknya mengingatkan dan menyulut kenyataan bahwa bahasa dan sastra Jawa tahun itu sebenarnya telah ditinggalkan penuturnya karena alasan perkawinan lintas etnis, urbanisasi, dan arus budaya global. Sehingga ditolong dengan kecanggihan ICT (information, communication,dan technology) bentuk apa pun, kekronisan bersuka ria menjadi penggiat sastra dan budaya etnik tak dapat dipaksakan. Bahkan, mereka (para penggila budaya global yang mulai meninggalkan jejak sastra etnis) sudah menemukan jalan hidupnya sendiri.

Sebagai gebrakan dalam ranah local genius dalam tinjauan budaya filsafati Jawa, sastra etnis harus diberi ruang bebas yang aman, nyaman, dan menenteramkan. Sudah jarang terlihat orang menyanyi ura-ura di teras rumah, di gubuk sawah, atau menyanyi ”Ngapote” di tepi pantai, atau juga menyanyi ”Umbul-umbul Belambangan” bagi etnis Using Banyuwangi yang notabene sebagai penggiat sastra etnis, tetapi kini yang ada adalah orang ribut ber es em se ria dengan kenalan-kenalan dan koleganya tanpa batas pandang. ICT dalam kosa rupa apa pun juga belum memberi nilai tambah bagi berkembangnya sastra etnik. Maka begitulah nasib sastra etnik yang sebenarnya.

Satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menghargai sastra etnik adalah dengan jalan (1) membiasakan menggunakan peranti sastra etnik dalam hidup keseharian, misalnya ngobrol santai dengan bahasa etnis yang membungkus sastra etnik dengan media guritan bagi komunitas Jawa atau dengan sastra gending bagi komunitas Using atau lagu pop Bali bagi sastra etnis Bali, demikian juga dengan pantun bagi komunitas Minangkabau di mana pun mereka berada, (2) mendidik anak-anak mulai dari taman kanak-kanak untuk mengenal dan mencintai sastra etnik, (3) pihak yang remaja atau dewasa dibiasakan menggunakan pitutur bahasa dan sastra dalam kehidupan keseharian termasuk para guru di banyak sekolah mulai TK hingga sekolah menengah, (4) menggiatkan musyawarah guru mata pelajaran bahasa dan sastra daerah (etnik), (5) kemasan ICT hanya terbatas untuk publikasi ilmiah dan non-ilmiah bidang sastra etnik, misalnya mengenalkan sastra etnis dalam keping tembang atau lagu pop etnik, seni pertunjukan tradisional sejenis teater rakyat yang berbahasa dan bersastra etnik, termasuk dalam hal ini lawak atau badut tradisional yang dipanggungkan, dan lebih penting lagi, (6) pemerintah daerahnya juga tidak harus pura-pura ”buta” terhadap nasib sastra etnik, tanpa harus bergelimang memperhitungkan kepentingan politik, kecuali untuk perkembangan dan cita-cita mengeksiskan sastra etnik di jagat global.

Sastra etnik sudah bernasib sama dengan penjual kuali, gedheg keliling, aromanis keliling, perkakas dapur keliling dengan sepeda kumbang karena di tataran global sudah menyediakan keperluan rakyat dengan cara bebas milih dan ambil sendiri dengan meniadakan tawar-menawar. Sastra etnis maju mundur untuk dikatakan pada tataran eksis. Ia telah tenggelam atau sengaja menenggelamkan diri dengan cara-caranya sendiri, melebihi para penuturnya. Para penutur tak mau lagi disebut sebagai penutur, kecuali sebatas penyuka tapi ”dikit-dikit” karena harapannya menjadi manusia yang berwajah dan berwawasan global. Para penutur juga tidak taat pada rencana dan konsep perjuangan ”think globaly act localy”, mengejar dan mewatak global, tetapi tidak melupakan dan tidak meninggalkan eksistensi lokal. Ini suratan dan keniscayaan dalam keseharian hidup sastra etnik.

Mewujud dalam tembang

Sastra etnik yang mewujud dalam tembang etnik (dalam bahasa Jawa Kawi: sastra gending) telah membawa beban berat mengenalkan kearifan lokal kepada dunia-dunia yang disinggahinya. Sebut saja misalnya kearifan lokal sebuah sungai yang dikemas dalam sastra lalu menyatu dengan tembang etnik seperti Sungai Bengawan di Solo yang digarap dengan apik oleh Gesang dan Kali Elo di Banyuwangi yang dikarang oleh BS Noerdiyan dan Andang CY, serta Kali Grindulu yang mewujud lagu merdu dan brand Kabupaten Pacitan telah mewujud menjadi tembang yang menerbangkan eksistensi lokal kepada dunia luar. Sastra gending yang mewujud dari sastra etnis telah rela mengabarkan kepada dunia dengan bebas tanpa beban. Ia telah berjasa besar kepada masyarakat etnis dan menggugah kesunyian alam dalam rangka memperkuat ikon kebudayaan melalui geliat sastra etnis.

Denyut tembang yang mendayu-dayu dalam konteks budaya dan kemasan kearifan lokal adalah kiprah sastra etnis yang paling berharga. Umum menyadari bahwa apa pun bentuk dan pertumbuhannya merupakan karya budaya adiluhung bangsa yang tak ternilai sebagai heritage yang berkeadaban. Setidaknya sastra etnik telah sangat mampu mengubah zaman tentang budaya daerah, tradisi lokal, cagar budaya, adat, kuliner, dan warna lokal dalam bingkai local wisdom yang mewujud dalam syair dan untaian kata-kata penuh makna yang kemudian dilantunkan oleh artis-artis lokal hingga membahana ke seantero negeri, maka inilah sebenarnya sastra etnis yang sangat mampu menempatkan jatidiri dengan fungsi dan perannya yang tidak remeh-temeh.

Beberapa sastra etnis semacam sastra Lampung di Provinsi Lampung, sastra Sunda di Jawa Barat, sastra Madura di Pulau Madura, dan beberapa kabupaten di wilayah Jawa Timur, sastra Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, sastra Mentawai di Padang Pariawan Sumatera Barat, sastra Minang di Sumatera Barat, sastra Bukit di Hulu Sungai Tengah Kalimantan, sastra Lisan Ogan di Sumatera Selatan, sastra Bajau di Kota Baru Kalimantan Selatan, sastra Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY, sastra Bali di seluruh Provinsi Bali dan lain-lain telah mengambil peran yang tidak kecil untuk mengabarkan kepada dunia bahwa tugas mereka tidak sia-sia.

Tugas kemanusiaan

Sastra etnik tidak sendirian dalam bertugas mengemas budaya daerah dalam konteks keindonesiaan. Ia merajut kesatuan sebagai khazanah yang kaya-raya dalam media seni dan hiburan yang menjadi jembatan kenusantaraan walaupun ia tidak mampu membantu tugas-tugas berat bangsa semisal memberantas korupsi di negeri sendiri. Ia hanya bisa bersuara atau menjerit sekeras-kerasnya, tetapi tak berhasil memunculkan respons yang kuat, karena kehadirannya hanya dipandang sebelah mata oleh pelaku penyakit negara dan penyakit masyarakat yang terus menggerogoti negeri ini. Sastra etnis sekadar melaksanakan tugas kemasyarakatan dalam kerangka kultural tanpa dukungan apa-apa.

Publik memahami bahwa sastra etnik perlu dimanjakan dan dihidupi dengan perhatian yang besar, dalam bentuk kepedulian. Kepedulian bisa berupa pendanaan untuk diterbitkan atau dipublikasikan, diberi penghargaan bagi penggiat, pelestari, dan pencipta sastra etnik, serta bukan hanya janji-janji palsu yang tak tentu muaranya. Apa yang telah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage merupakan bentuk kepedulian kepada sastra.

Kepedulian nyata yang telah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage patut dijadikan contoh oleh pemerintah (daerah ataupun pusat). Memberikan hadiah dan penghargaan sastra kepada sastrawan dan pelestari sastra Sunda (sejak tahun 1994), kemudian berkembang ke sastra Jawa (tahun 1996), kemudian sastra Bali diberikan tahun 1998 dan pada tahun 2015 ini berkembang penganugerahan sastranya kepada sastra Batak. Langkah Ajip Rosidi dan kawan-kawannya dilakukan setiap setahun sekali itu bukanlah basa-basi atau janji-janji, tetapi bukti nyata pada karya dan penghargaan sastra etnik. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suyanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 25 Oktober 2015