Korrie Layun Rampan, Keteguhan Sang Penyair di Jalan Sepi dan Pesan Kepada Penerbit | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Korrie Layun Rampan, Keteguhan Sang Penyair di Jalan Sepi dan Pesan Kepada Penerbit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 7:00 am Rating: 4,5

Korrie Layun Rampan, Keteguhan Sang Penyair di Jalan Sepi dan Pesan Kepada Penerbit

USIA
Di laut kebar layar, silhuet gemetar
Di darat tunas tunas tumbuh, tunggul terbakar.
Bianglala, keranda diusung
Duka, bayang bayang murung
(Korrie Layun Rampan, 1975)

Sajak "Usia" dari penyair Korrie Layun Rampan itu dinukil dari sajak-sajak Korrie yang dimuat di harian Kompas, Selasa, 14 Oktober 1975. Saat itu, usia Korrie 22 tahun dan karya tersebut menjadi karya pertamanya yang bisa dilacak di arsip harian Kompas.

Karya pertama di Kompas itu bernuansa sedih, yang kiranya masih relevan untuk mengawal kepergian beliau. "Duka, bayang-bayang murung" masih menggelayuti kehidupan Korrie saat membaca tulisan terakhir Korrie di Kompas pada 11 November lalu, atau delapan hari yang lalu sebelum ia berpulang. Maka, "keranda diusung" akan menyertai kepergian sang penyair itu esok hari.

Korrie, kelahiran Samarinda, 17 Agustus 1953, telah meninggalkan kita semua pada Kamis (19/11). Ia merupakan penulis, penyair, dan sastrawan yang pernah tinggal di Jakarta, tapi kemudian memilih menepi ke daerah asal yaitu di Sendawar, Kuta Barat, Kalimantan Timur.

Walaupun ia termasuk penulis produktif, dan pernah menjadi anggota DPRD, namun hidupnya hingga akhir hayatnya selalu sederhana. Jalan hidupnya pantas menjadi renungan kita saat ini, bagaimana seorang Korrie memilih untuk berjuang dari daerah, di tengah berbagai persoalan di daerah. Ia berusaha memperjuangkan haknya atas royalti buku pada penerbit yang pernah menerbitkan buku-bukunya, namun sebagian tak berhasil.

Setelah sajak-sajak pertama Korrie dimuat di Kompas, Korrie rajin mengirim karya, baik berupa sajak, cerita pendek, maupun resensi buku. Di arsip Kompas sendiri, pencarian dengan kata kunci Korrie Layun Rampan telah menghasilkan 133 tulisan terkait.

Korrie tak hanya larut dalam karya-karya sastranya. Ia seolah berusaha menjadi manusia total, berhadapan dengan berbagai problem domestik dan kedaerahan ketika ia pulang kampung, benar-benar pulang kampung dalam arti sebenarnya.

Wartawan Kompas M Suprihadi pernah mengisahkan betapa dramatisnya saat ia mendengarkan kisah Korrie yang pulang kampung membangun kampung. Ia mewawancarai Korrie dan kemudian menurunkan laporan di harian Kompas berjudul "Korrie Layun Rampan, Tinggalkan Kemapanan untuk Kampung Halaman" yang dimuat pada 26 Desember 2001.

Tulisan itu terasa indah namun juga terasa memilukan bagi pembaca ketika seorang Korrie berjuang total. Simak cuplikan artikel di Kompas yang ditulis M Suprihadi ini:

(alm) Korrie Layun Rampan
Korrie, si penulis roman Upacara, memang pulang kampung dalam arti sebenarnya. Bukan sekadar menengok kerabatnya yang sekarang banyak jadi pejabat di Kabupaten Kutai Barat yang baru berumur tiga tahun. Istri dan tiga dari enam anaknya ia boyong ke Melak, ibu kota Kabupaten Kutai Barat, meninggalkan segala kemapanan yang dimilikinya di Jakarta. Meninggalkan komunitas sastra dan intelektual Jakarta yang digelutinya selama 30 tahun.

Sejak Maret 2001, ia mengembangkan Sentawar Pos, sebuah surat kabar mingguan yang dikatakannya menjawab kebutuhan informasi masyarakat Kutai Barat. Dengan hanya dibantu seorang wartawan, Korrie dan istrinya harus jatuh bangun mempertahankan usahanya. "Tidak ada fasilitas apa-apa di sini. Lima komputer pinjaman dari pemerintah kabupaten. Satu komputer saya pinjam dari keponakan saya. Kamera saya satu-satunya sudah pecah saat meliput ke Long Pahangai," kata mantan Redaktur Pelaksana Majalah Wanita Sarinah yang ia tinggalkan karena konflik kepentingan para pemilik modalnya itu.

 Sekitar 12 tahun kemudian, Kompas kembali mengangkat sosok Korrie Layun Rampan, seolah memberi informasi mutakhir kondisi Korrie saat itu. Wartawan Kompas Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya menulisnya dengan judul "Korrie, Memilih Menyepi" yang dimuat pada 1 Desember 2013.

Nuansa perjuangan dan kepiluan masih terasa dari tulisan tersebut. Simak nukilan tulisan tersebut di bawah ini:

Papan nama ”Rumah Sastra Korrie Layun Rampan” di halaman terhalang semak belukar. Bahkan rumah kediaman sastrawan Korrie Layun Rampan (60), yang menyerupai kastil tua, telah ditumbuhi pohon-pohon liar di sana-sini. Tak ada pagar, tak ada teras. Dari halaman kita bisa langsung ke ruang tamu yang kecil.

Sungguh tak mudah menghubungi Korrie. Beberapa minggu sebelum berangkat ke Melak, Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, kami telah mengontak telepon selulernya. Tak ada jawaban. Bahkan kami menulis di laman FaceBook Korrie dan Hermiana, istrinya, bahwa kami ingin bertemu di Sendawar, ibu kota Kubar, di mana sekarang Korrie memilih tinggal.

Tak ada jawaban juga. Sampai dua hari kami menginap di Melak, kota kecamatan kecil, 15 kilometer dari Sendawar, sebuah pesan masuk via telepon, malam hari. ”Ini hp sy. sy baru pulang dari hutan. Korrie.” Setelah menanyakan kapan bisa bertemu, kira-kira 15 menit kemudian Korrie mengirim pesan lagi dalam huruf-huruf seperti ini, ”Besok boleh, di rumah, biar tahu rmh sy. DI JL POROS BARONG TONGKOK-SEK DARAT, DEPANNYA ADA PLANG RUMAH SASTRA KORRIE LAYUN RAMPAN.”

Singkat cerita kami akhirnya bertemu di Kampung Sekolaq Joleq, RT 005, Kecamatan Sekolaq Darat, Jalan Poros Barong Tongkok, Sendawar. Di kampung ini rumah jarang-jarang. Sebagian besar wilayahnya berupa semak belukar dan hutan.

”Di sini sinyal telepon naik-turun. Jadi kalau saya terima sms belum tentu bisa langsung dijawab. Saya harus pergi ke jalan untuk membalasnya,” kata penulis 357 judul buku ini. Kami membayangkan berapa kali Korrie harus keluar ke jalan raya ”hanya” untuk membalas pesan-pesan kami via telepon.

Sudah 12 tahun berlalu, namun Korrie tetap bergumul dengan keadaan di sekitarnya. Walaupun ia mampu hidup layak di Jakarta, misalnya, namun itu tak dilakukannya. Korrie pernah menjadi anggota DPRD, karena itu jika hanya ingin mengejar gemerlapnya dunia, pasti ia mampu. Simak kembali tulisan wartawan Kompas Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya di bawah ini:

”Kami minta maaf, telah merepotkan Anda.”

”Ya begitulah. Ini pedalaman, terpencil dari peradaban, sampai sinyal pun sulit,” balas sastrawan yang memulai karier bersastranya saat kuliah di Yogyakarta. Sekitar tahun 1970-an bersama Emha Ainun Nadjib dan (alm) Linus Suryadi AG, Korrie menjadi peserta aktif komunitas sastra yang dipimpin penyair Umbu Landu Paranggi di kawasan Malioboro.

Mengapa memilih menyepi di kampung?

Mencari kekayaan? Sudah lewat itu. Saya mau meninggalkan nama baik kalau saya sudah tidak ada. Biar ada yang tahu, oooh Pak Korrie itu orangnya baik. Itu saja….

Anda pernah jadi anggota DPRD Kubar periode 2004-2009, itukah semangat membangun kampung halaman?

Enggak kuat saya di DPR, itu bukan tempat saya. Tempat saya itu menulis, saya ini sastrawan. Saya darah tinggi itu karena di DPR. Kita berjuang melawan orang banyak yang bodoh-bodoh. Mereka pakai tangan, kita pakai otak. Siapa yang mendukung Pak Korrie, satu-dua orang angkat tangan, yang pintar-pintar. Siapa yang mendukung sini, selain Korrie, semua angkat tangan….

Dalam event sastra Indonesia, untuk menghormati kiprah kesastrawanan Korrie Layun Rampan dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), 29-30 September 2005, pernah menyelenggarakan acara khusus untuk pengarang asal Kalimantan tersebut. Bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, diluncurkan buku terbaru Korrie, diikuti pementasan tarian Dayak di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Amir Sodikin
[2] Pernah tersiar di surat kabar (online) "Kompas" 19 November 2015, hari wafatnya Korrie Layun Rampan