Paris Diserang Lagi | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Paris Diserang Lagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:23 am Rating: 4,5

Paris Diserang Lagi

”Jean...Ada serangan teroris di Paris. Mungkin sampai 150 orang mati”. Berita itu jatuh begitu saya, tadi, di dalam bentuk pesan singkat ketika saya sedang asyik menikmati keragaman ala Indonesia di Borobudur Writers and Culture Festival. Astaga!

Yang pertama datang ke benak saya, sebagai reaksi atas pembantaian keji itu, ialah Paris puluhan tahun yang lalu, ketika kami, para mahasiswa Perancis, 80.000 jumlahnya, berdemo di kota yang sama demi ”persaudaraan” manusia. Sepanjang jalan kami berteriak: ”Kami semua adalah Yahudi Jerman”, sebagai tanda solidaritas terhadap tokoh mahasiswa ’Cohd-bendit’ yang dua kali dianggap oleh masyarakat tertentu ”hina”, sebagai orang Jerman yang sekaligus Yahudi, dan mau diusir dari Perancis oleh pemerintah karena alasan politik.

Sekarang, sebelum kecurigaan tertuju kepada orang-orang Arab dan orang-orang Islam, saya ingin berteriak, dan berharap semua orang Perancis bakal berteriak: ”Kita semua adalah orang Arab nan Islam, sebagai tanda solidaritas terhadap mereka yang pasti bakal dicurigai meski tak bersalah”.

Enam bulan yang lalu, ketika kaum teroris membunuh secara keji hampir seluruh tim editorial majalah Charlie Hebdo, yang diserangnya ialah prinsip pertama Revolusi Perancis tahun 1789, yaitu Liberté: kebebasan berpikir yang mutlak, hak untuk berbeda pendapat dan bersikap merdeka. Kini, yang diserang adalah prinsip ketiga, yang lebih mendasar lagi: Fraternité, yaitu persaudaraan umat manusia, pernyataan bahwa kita, umat manusia, pada dasarnya ”bersaudara”, apa pun ras, bangsa, atau agama dan kepercayaan setiap orang.

Saya bukan tanpa menyadari bahwa, seperti halnya Pancasila, baik ”Liberté, Egalité, maupun Fraternité” (Persaudaraan), tidak pernah akan berhasil diwujudkan secara sempurna. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tidak harus diperjuangkan. Kini, apa pun alasan sejarah yang dijadikan dalihnya, kita tidak boleh membiarkan beredar tafsir yang tidak hanya hendak memisahkan dan melakukan diskriminasi antara kita berdasarkan agama yang kita anut, tetapi yang lebih jauh lagi, bersedia membunuh atas nama agama itu sendiri. Tafsir tersebut merupakan pengkhianatan terhadap kemanusiaan dan rasa keadilan untuk berketuhanan.

”Mengapa serangan seperti ini bisa menimpa Paris untuk kedua kalinya di dalam 10 bulan?” tanya seorang teman wartawan. Oleh karena prinsip ”liberté” di atas: orang bisa berpikir apa saja asal tidak memperlihatkan maksud melakukan kekerasan. Kaum salafi yang menjanjikan neraka tidak masalah. Masalah timbul bila terdapat anggota dari kaum itu merasa dirinya menjadi tangan Tuhan untuk mengirim orang ke neraka itu. Maka salah satu risiko mendatang untuk Perancis ialah dimaklumatkan berbagai undang-undang yang dapat mengancam kebebasan berekspresi, yakni liberté itu. Misalnya, bila ragam salafisme damai itu dilarang, demokrasi terancam dan prinsip revolusi Perancis (Liberté, Egalité, Fraternité) dikhianati. Hal ini bisa saja terjadi bila pada pemilihan umum mendatang partai ekstrem kanan (ultra-nasionalis) menumbangkan pemerintahan garis tengah yang kini berkuasa.

Harus disadari bahwa radikalisme Islam tidak muncul di Perancis secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari aneka luka sosial dan historis: Pendirian negara Israel (1948); Perang kemerdekaan Aljazair (1954-1962); kenyataan bahwa banyak migran Magribi kini merupakan ”proletariat” baru yang menemukan ”bahasa perlawanan” bukan dalam komunisme, yang mati, tetapi di dalam tafsir harfiah agama Islam. Bila ditambah alasan luar negeri: Perang di Syria/Irak, guncangan di Sahel dan Afrika Tengah, alasan untuk memusuhi Perancis berjibun. Hal-hal ini tidak berarti bahwa tidak ada orang Magribi Islam yang berintegrasi dengan baik. Menteri Pendidikan adalah wanita Maroko; banyak tentara Perancis beragama Islam atau Yahudi.

Peristiwa yang kini menimpa, seperti peristiwa yang beberapa tahun yang lalu menimpa Indonesia, menunjukkan betapa kita perlu memperkuat sarana komunikasi dan mediasi bukan hanya antarbangsa dan kelas sosial—seperti umum dilakukan selama ini, tetapi juga antarsistem kepercayaan.

Berkenaan dengan ini harus kita sadari bahwa hal ini semakin sulit dilakukan oleh karena guncangan-guncangan makro yang mengoyakkan tatanan sosio-ekonomi dan sosio-kultural global. Namun, kita tidak boleh membiarkan aneka persaingan yang mencirikan sistem global menjelma menjadi ”kebencian”. Harus kita ciptakan instrumen penanggulangan. Bila hal ini dirasakan sulit, kita harus mengingat kata-kata Martin Luther King. ”Darkness cannot drive out darkness, only light can do it. Love cannot drive out hate, only love can do it” (”Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian, hanya kasih yang bisa”). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jean Couteau
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 15 November 2015