Parodi: I Wish | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Parodi: I Wish Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:37 am Rating: 4,5

Parodi: I Wish

Setelah beberapa kali menyaksikan serial televisi Scandal, baru belakangan ini timbul pertanyaan. Apakah setiap manusia itu berhak jatuh cinta kepada siapa pun? Termasuk jatuh cinta kepada pasangan orang lain yang sudah menikah? 

Bubur ayam

Jatuh cinta yang saya maksud bukan sekadar 'cinta monyet', tetapi benar-benar jatuh cinta. Artinya menjalani hari-hari penuh asmara, dan di dalam serial televisi di atas, si pria yang adalah Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk menceraikan istrinya.

Saya bahkan sama sekali tak terusik ketika Olivia Pope sebagai pemeran utama menjelaskan kisah asmaranya di layar televisi sebagai sebuah pertanggungjawaban hubungan asmaranya yang tadinya gelap, dan yang sekarang menjadi terang benderang.

"I wish we'd never met. But we did. And I tried. I tried and failed again to hide. To stop loving him. I was weak. I hated myself. And when our affair was exposed, I had to follow my own advice and stand in my truth."

Waktu mendengar penjelasannya itu mulailah otak saya terpancing mengajukan berjuta-juta pertanyaan seputar cinta. Saya sampai mengirimkan pesan kepada teman-teman saya yang juga menyukai serial itu. Sayangnya, jawaban mereka tak bisa saya tuliskan di sini.

I wish we'd never met. But we did. Apakah kalimat ini mengukuhkan bahwa benarlah kalau cinta itu tak bisa diatur datangnya dan tak bisa diatur kepada siapa kita akan jatuh cinta? Seandainya sebuah kata yang menjelaskan ketidakmampuan manusia memprediksi akibat dari sebuah kejadian. Seandainya hanya lahir ketika nasi telah menjadi bubur.

Tetapi, mengapa penyesalan tetap terus dilakukan? Karena nasi sudah menjadi bubur. Tambahkan saja ke dalamnya potongan ayam, kecap asin sedikit, telur setengah matang, daun bawang, maka yang tadinya disesali telah menjadi bubur, kemudian berakhir dengan menjadi bubur ayam yang enak.

And I tried and failed to stop loving him. Bagaimana orang setangguh Olivia Pope ambruk juga karena cinta? Sesungguhnya saya mengerti waktu ia mengatakan itu. Saya pernah melakukan sebuah hubungan gelap. Saya telah mencoba dan mencoba dan gagal untuk berhenti mencintainya. Bahkan sampai hari ini, ketika di dalam kepala saya tak bisa menepis yang saya cintai itu. Teman-teman saya mengatai saya bodoh.

Maju atau mundur

Apakah menjadi bodoh, menjadi tak berdaya, adalah sebuah kesalahan? Kalau itu dianggap salah, siapakah yang salah? Manusianya sebagai pelaku cinta, atau cinta yang memberi efek melemahkan dan membuat bodoh seseorang?

Orang hanya menudingkan jarinya pada perselingkuhan. Orang tak mau dan bukan tak bisa mengerti, bahwa ada manusia yang jatuh cinta bukan sekadar sebagai sebuah permainan, tetapi akibat dari efek yang ditimbulkan cinta. Itu mengapa sekarang saya mengerti kalau Olivia mengatakan: "I wish we'd never met."

Karena seandainya ia tahu bahwa cinta itu seperti ini, ia tak akan melakukannya karena akan melukai semua orang. Tetapi, apa dayanya seorang Oliva menghadapi kekuatan efek dari cinta? Ia tak berdaya. Saya tak tahu kalau Anda. Saya juga tak tahu apakah kalau perkawinan sudah berlangsung sekian tahun, Anda bisa dianggap telah kuat dan hidup dalam kebenaran cinta?

Saya juga tak tahu apakah kekuatan yang Anda miliki sesungguhnya karena ada obat kuat dalam bentuk keberadaan seseorang di luar pasangan resmi yang Anda miliki, yang mampu memberi energi dalam menjalani perkawinan yang naik dan turun.

I was weak and I hated myself. Ucapan itu buat saya, selain sebuah pengakuan diri, juga bentuk nyata dari kebiasaan menganggap efek cinta selalu benar. Yang dianggap tidak benar itu adalah manusianya yang lemah, sehingga kebiasaan menganggap efek cinta itu benar, telah berakibat membuat seseorang membenci dirinya sendiri.

Padahal, bukankah manusia itu sendiri tahu bahwa mereka adalah makhluk yang juga lemah, bahkan ketika tidak sedang jatuh cinta. Menjadi sakit, menjadi koruptor, menjadi playboy, suka marah dan memaki, bukankah itu juga sebuah kelemahan?

Jadi mungkin, hanya mungkin, kelemahan manusia itu tidak boleh dimintai pertanggungjawaban. Sungguh tidak bermoral kalau kita meminta pertanggungjawaban itu. Meski itu adalah inti permasalahannya. Lebih bermoral kalau kita menuduh orang menjadi lemah dan membuat mereka merasa bersalah.

And when our affair was exposed, I had to follow my own advice and stand in my truth. Apakah kebenaran dalam cerita asmara Olivia dan Sang Presiden? Mereka jatuh cinta. Itu kenyataannya. Saya tak sedang mengaminkan perselingkuhan dengan tulisan ini. Sejujurnya tulisan adalah sebuah pertanyaan dan pergumulan panjang. Bahkan di pengujung tulisan ini saya masih ingin bertanya kepada Anda dan diri saya sendiri.

Apakah saya dan Anda, baik yang lajang maupun sudah menikah sekian tahun, bisa mengatakan kalau saya sudah I stand in my truth? Apakah kebenaran yang sesungguhnya itu menakutkan sehingga sebaiknya mundur saja, ataukah ungkapan the truth set you free itu seharusnya dilakoni meski akan ada banyak tangan yang menuding, sehingga maju tak gentar menjadi pilihan? 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Samuel Mulia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  8 November 2015