Psikologi: Berdiri di Atas kaki Sendiri | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Psikologi: Berdiri di Atas kaki Sendiri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:29 am Rating: 4,5

Psikologi: Berdiri di Atas kaki Sendiri

Suara yang terpenting dalam interaksi kita dengan orang lain adalah suara hati kita sendiri. Kita membutuhkan diri kita sendiri untuk mengamati, memproses informasi yang datang.

Kita seyogianya memanfaatkan suara kuat untuk memahami relasi yang telah terbina dengan cara yang lebih tajam dan fokus terhadap kemungkinan perubahan di masa mendatang.

Hindari fantasi tentang kemungkinan perubahan perilaku pasangan kita di kemudian hari. Apabila kita tidak mampu melakukan hal tersebut di atas, akan sulit bagi kita untuk meyakini jalinan relasi tersebut di masa mendatang. Namun, apabila kita yakin dan percaya pada diri kita sendiri, yang menyatakan bahwa ada beberapa aspek perilakunya yang tidak bisa kita toleransikan dan posisi kita di hadapannya terasa kurang pas, apalagi, jika pada dasarnya keputusan yang kita ambil tentang peluang menjadi pasangan tetap, kita lakukan dengan cara yang kurang mantap.

Kondisi relasi di masa mendatang

Suatu ketika X bertemu dengan pria yang menarik perhatiannya dalam satu kegiatan sosial, dan rupanya pria itu pun tertarik pada X. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Setelah masa pacaran berjalan, pada bulan-bulan awal, X benar-benar merasakan perhatian dan sikap pacarnya sangat baik, melindungi dan dirasa sangat mengasihi dirinya.

Namun, ternyata beberapa saat kemudian X merasa sikap pacarnya (katakanlah, namanya Y) menjadi sangat posesif. Y melarang X untuk mengikuti diskusi kelompok studinya di sore hari. Y juga melarang X menonton film dengan teman-temannya. Bahkan, Y juga melarang X yang sudah merencanakan pergi berkemah dengan keluarga besarnya, karena Y akan mengambil cuti dan ingin menghabiskan masa cutinya bersama X.

X berkata: "Sebenarnya saya menghargai dan menghormati Y. Namun, akhir-akhir ini Y semakin bersikap posesif. Saya tidak mau putus hubungan, tapi sekaligus saya mencemaskan sikap dan perilaku Y yang semakin posesif adanya. Apa yang harus saya lakukan?"

Untuk itu, X tidak perlu marah terhadap Y, dan X juga tidak perlu "bête" dengan sikap dan perilaku Y yang punya perspektif sangat berbeda dengan dirinya. X tidak perlu menutup mata terhadap perilakunya sendiri, dan tidak pula mulai menyerahkan hidupnya pada pacarnya. Dalam artian, tetaplah hadir pada acara diskusi studi di sore hari, karena semakin X mematuhi larangan-larangan Y, sikap posesif dari Y justru akan semakin kuat.

Jadi putuskan untuk pergi berkemah dengan keluarga besarnya, tetap pergi menonton dan lain-lain. Jadi X seyogianya berani mengatakan "tidak" terhadap larangan-larangan Y, tetapi tetap mencari jalan lain agar mendapatkan situasi yang membuat Y tetap merasa puas dalam kebersamaannya dengan X. X hendaknya mampu memelihara alur komunikasi dengan Y secara terbuka dan mendengarkan perasaan serta memperhatikan Y dengan baik.

Ketahuilah bahwa X membutuhkan bertahan dalam kemandiriannya dan menyatakan bahwa kemandirian sebagai hal terpenting dalam kehidupannya. Dalam hal ini tidak berarti X harus bersikap kaku dan tidak kompromistis, karena setiap interrelasi menuntut sikap "give and take". Namun, tentu saja dengan konsekuensi sebagai berikut, yaitu mungkin Y dapat dan mau menerima tuntutan kemandirian X atau justru sikap X tersebut akan membuat Y meninggalkannya.

Hal yang perlu disimak adalah bahwa tantangan suatu relasi yang intim adalah membedakan "diri" dan "kami", tanpa harus menanggalkan karakter individu masing-masing. Jadi, apabila kita dihadapkan pada satu pilihan, kita membutuhkan kesempatan bicara secara terbuka. Untuk itu pertahankanlah perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang kita miliki dari awal kehidupan kita.

Tambahan lainnya adalah kita harus banyak bicara, mengamati, berpikir dalam berbagai situasi agar proses pengenalan dan proses dikenal antara diri dan calon pasangan kita dapat berjalan dengan baik. 

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Sawitri Supardi Sadarjoen
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 8 November 2015