Kesederhanaan di Balik Sepotong Kejutan | Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini
Kesederhanaan di Balik Sepotong Kejutan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 9:00 pm Rating: 4,5

Kesederhanaan di Balik Sepotong Kejutan

Lima Besar Buku Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2015

DALAM jagat penciptaan puisi, salah satu persoalan terpenting adalah mempertemukan puisi dengan pembaca. Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi yang tidak sekadar ceramah berbalut penampilan akrobatik yang isinya telah diketahui pembaca. Puisi adalah pengetahuan-pengetahuan baru. “Dalam puisi, hal yang tak terduga muncul,” kata penyair Goenawan Mohamad, dalam sebuah wawancara menjelang keberangkatannya sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Guest of Honour
Frankfurt Book Fair 2015, Oktober lalu.

Lima buku puisi yang terpilih menjadi lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 adalah puisi-puisi yang mencerahkan dan tidak sekadar akrobat itu. Para pengarangnya, yakni Joko Pinurbo (Surat Kopi, 2014), Triyanto Triwikromo (Kematian Kecil Kartosoewirjo, 2015), Afrizal Malna (Berlin Proposal, 2015), Esha Tegar Putra (Dalam Lipatan Kain, 2015), dan M Aan Mansyur (Melihat Api Bekerja, 2015) mampu mebawa puisi-puisinya menyapa pembaca bahkan mereka yang berada di luar orbit sastra sekalipun. Dan, puisi-puisi itu kembali ingin dimaknai ketika dibaca ulang, ketika kembali disapa.

Nirwan Dewanto dalam satu kesempatan menyebut Joko Pinurbo memberi pengaruh besar dalam perpuisian Indonesia mutakhir. “Ia berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik, sementara kebanyakan penyair hanya mendedahkan keruwetan dan bukan kompleksitas, dengan kalimat patah-patah yang sering mengabaikan logika.”

Benar saja, Jokpin boleh jadi tak memakai strategi puitik yang moncer dalam setiap larik puisinya. Namun, ia hampir tak pernah gagal menyuguhkan hal yang satire, sehingga membuat pembacanya menghayati keterasingan atau sekadar tersenyum kegelian.

Sementara itu, Triyanto Triwikromo menggelorakan “suara lain” Kartosoewirjo yang ia takik dari pemberitaan, buku, dan foto-foto terkait imam DI/TII itu. Peraih penghargaan dari Pusat Bahasa pada 2009 atas buku kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi (2009) itu dalam 54 puisinya menggunakan pola puisi liris dalam menghadirkan kembali citraan hari-hari terakhir Kartosoewirjo. Itu bakal kita temui dari puisipuisi yang diawali “Penangkapan” dan diakhiri dengan “Kesaksian”. Tiga babakan yang dihadirkan dalam buku tersebut seakan ingin membatasi ruang pembacaan: Awal (1 puisi), Antara (52 puisi), Akhir (1 puisi).

Suasana Puitik

Puisi-puisi dalam buku tersebut seolah bercerita kembali bagaimana Kartosoewirjo tertangkap, dibawa ke tiang gantungan, dan kesaksian-kesaksian para regu tembak. Lihat bagaimana Triyanto menghadirkan suasana puitik dalam proses “Penangkapan” (hlm 1): “/Hutan biru menyembunyikan apapun, atau siapapun,/ yang bertabur fosfor dan aura kirmizi dari ancaman/ sedadu. Hutan biru menyembun- yikan aku dari kutuk/ kematianku.// karena itu, kau, prajurit yang lemah lembut, jangan
pernah/ merasa gampang menangkapku. Aku satwa yang dililit/ besi berlapis salju. Peluru tak bisa menembus jantungku...//”

Penulis Surga Sungsang (2014) itu juga mencitrakan secangkir kopi, ganti baju, tiang gantungan sampai raut maut Kartosoewirjo: “Aku belum mengenal raut maut saat kau mempercakapkan/ kema-
tianku. Apakah ia berwajah kuda atau mutiara, apakah/ ia hijau muda atau biru tua, aku sama sekali tak berhasrat/ memandang matanya yang terus menyala, aku sama sekali/ tak ingin menyapa...” (“Raut Maut”, hlm 7). Boleh jadi Triyanto menghadirkan alternatif lain dari cara memandang sebuah peristiwa sejarah dengan mengabadikannya dalam bahasa puisi. Soal benar atau salah tentu bukan urusan puisi. Namun, riset panjang Redaktur Pelaksana Suara Merdeka itu membuahkan hasil: sejarah bisa saja dibicarakan dengan begitu indah, meski tak pernah tuntas dipersoalkan.

Pilihan diksi yang menunjukkan keterasingan di negeri orang diusung oleh Afrizal Malna dalam Berlin Proposal. Dalam ke-30 puisinya, berserak diksi seperti palu, pacul, linggis, pagar tertutup, apartemen, atau gigi. Diksi realistis itu seakan menggambarkan kesunyian atau kerinduan terhadap negeri sendiri ketika lama di negeri orang. Selain itu, dalam beberapa puisi, Afrizal juga nampak “hanya” menjejer kata. Hal itu mampu memberi kesan pembacaan tersendiri, seperti penggalan puisi
“password” ini: Peluru dan password./ Usaha menghentikan tembakan gavrilo princip, antara film dan potret. Lurus. Masuk./ Penggaris peluru./ Meteran untuk mata jaman:/ “ini telegram dan remote tv”./ peta di bawah penghapus./ Eropa tengah. Black hand/

Esha Tegar Putra dalam bukunya terasa begitu kental memasukkan unsur lokalitas dan kedaerahannya. Membaca bait demi bait kita akan menemukan diksi Minang yang cukup intens. Selain itu ia juga memasukkan beberapa nama daerah di Sumatera Barat sebagai latar cerita. Beberapa tempat seperti Pandaisikek, Pilubang, Kalumbuk, Solok, Singkarak, Pantai Padang, dan daerah lainnya menjadi pilihan diksi yang sering disematkan Esha di dalam beberapa puisi melankolisnya. Namun, ia sering melakukan pengulangan diksi yang sama beberapa kali pada puisi-puisinya yang berbeda. Tetapi agaknya itu bukanlah permasalahan namun justru ciri yang melekat.

Pengarang mencipta puisi. Puisi menentukan nasibnya sendiri. Kita lihat saja keputusan juri Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini.(92)

—- Dhoni Zustiyantoro, wartawan Suara Merdeka, pengajar pada Prodi Sastra Jawa Unnes

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dhoni Zustiyantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 29 November 2015