Kliping Sastra Indonesia | Esai dan Opini

Selasa, 01 Desember 2015

Kesederhanaan di Balik Sepotong Kejutan


Lima Besar Buku Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2015

DALAM jagat penciptaan puisi, salah satu persoalan terpenting adalah mempertemukan puisi dengan pembaca. Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi yang tidak sekadar ceramah berbalut penampilan akrobatik yang isinya telah diketahui pembaca. Puisi adalah pengetahuan-pengetahuan baru. “Dalam puisi, hal yang tak terduga muncul,” kata penyair Goenawan Mohamad, dalam sebuah wawancara menjelang keberangkatannya sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Guest of Honour
Frankfurt Book Fair 2015, Oktober lalu.

Lima buku puisi yang terpilih menjadi lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 adalah puisi-puisi yang mencerahkan dan tidak sekadar akrobat itu. Para pengarangnya, yakni Joko Pinurbo (Surat Kopi, 2014), Triyanto Triwikromo (Kematian Kecil Kartosoewirjo, 2015), Afrizal Malna (Berlin Proposal, 2015), Esha Tegar Putra (Dalam Lipatan Kain, 2015), dan M Aan Mansyur (Melihat Api Bekerja, 2015) mampu mebawa puisi-puisinya menyapa pembaca bahkan mereka yang berada di luar orbit sastra sekalipun. Dan, puisi-puisi itu kembali ingin dimaknai ketika dibaca ulang, ketika kembali disapa.

Nirwan Dewanto dalam satu kesempatan menyebut Joko Pinurbo memberi pengaruh besar dalam perpuisian Indonesia mutakhir. “Ia berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik, sementara kebanyakan penyair hanya mendedahkan keruwetan dan bukan kompleksitas, dengan kalimat patah-patah yang sering mengabaikan logika.”

Benar saja, Jokpin boleh jadi tak memakai strategi puitik yang moncer dalam setiap larik puisinya. Namun, ia hampir tak pernah gagal menyuguhkan hal yang satire, sehingga membuat pembacanya menghayati keterasingan atau sekadar tersenyum kegelian.

Sementara itu, Triyanto Triwikromo menggelorakan “suara lain” Kartosoewirjo yang ia takik dari pemberitaan, buku, dan foto-foto terkait imam DI/TII itu. Peraih penghargaan dari Pusat Bahasa pada 2009 atas buku kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi (2009) itu dalam 54 puisinya menggunakan pola puisi liris dalam menghadirkan kembali citraan hari-hari terakhir Kartosoewirjo. Itu bakal kita temui dari puisipuisi yang diawali “Penangkapan” dan diakhiri dengan “Kesaksian”. Tiga babakan yang dihadirkan dalam buku tersebut seakan ingin membatasi ruang pembacaan: Awal (1 puisi), Antara (52 puisi), Akhir (1 puisi).

Suasana Puitik

Puisi-puisi dalam buku tersebut seolah bercerita kembali bagaimana Kartosoewirjo tertangkap, dibawa ke tiang gantungan, dan kesaksian-kesaksian para regu tembak. Lihat bagaimana Triyanto menghadirkan suasana puitik dalam proses “Penangkapan” (hlm 1): “/Hutan biru menyembunyikan apapun, atau siapapun,/ yang bertabur fosfor dan aura kirmizi dari ancaman/ sedadu. Hutan biru menyembun- yikan aku dari kutuk/ kematianku.// karena itu, kau, prajurit yang lemah lembut, jangan
pernah/ merasa gampang menangkapku. Aku satwa yang dililit/ besi berlapis salju. Peluru tak bisa menembus jantungku...//”

Penulis Surga Sungsang (2014) itu juga mencitrakan secangkir kopi, ganti baju, tiang gantungan sampai raut maut Kartosoewirjo: “Aku belum mengenal raut maut saat kau mempercakapkan/ kema-
tianku. Apakah ia berwajah kuda atau mutiara, apakah/ ia hijau muda atau biru tua, aku sama sekali tak berhasrat/ memandang matanya yang terus menyala, aku sama sekali/ tak ingin menyapa...” (“Raut Maut”, hlm 7). Boleh jadi Triyanto menghadirkan alternatif lain dari cara memandang sebuah peristiwa sejarah dengan mengabadikannya dalam bahasa puisi. Soal benar atau salah tentu bukan urusan puisi. Namun, riset panjang Redaktur Pelaksana Suara Merdeka itu membuahkan hasil: sejarah bisa saja dibicarakan dengan begitu indah, meski tak pernah tuntas dipersoalkan.

Pilihan diksi yang menunjukkan keterasingan di negeri orang diusung oleh Afrizal Malna dalam Berlin Proposal. Dalam ke-30 puisinya, berserak diksi seperti palu, pacul, linggis, pagar tertutup, apartemen, atau gigi. Diksi realistis itu seakan menggambarkan kesunyian atau kerinduan terhadap negeri sendiri ketika lama di negeri orang. Selain itu, dalam beberapa puisi, Afrizal juga nampak “hanya” menjejer kata. Hal itu mampu memberi kesan pembacaan tersendiri, seperti penggalan puisi
“password” ini: Peluru dan password./ Usaha menghentikan tembakan gavrilo princip, antara film dan potret. Lurus. Masuk./ Penggaris peluru./ Meteran untuk mata jaman:/ “ini telegram dan remote tv”./ peta di bawah penghapus./ Eropa tengah. Black hand/

Esha Tegar Putra dalam bukunya terasa begitu kental memasukkan unsur lokalitas dan kedaerahannya. Membaca bait demi bait kita akan menemukan diksi Minang yang cukup intens. Selain itu ia juga memasukkan beberapa nama daerah di Sumatera Barat sebagai latar cerita. Beberapa tempat seperti Pandaisikek, Pilubang, Kalumbuk, Solok, Singkarak, Pantai Padang, dan daerah lainnya menjadi pilihan diksi yang sering disematkan Esha di dalam beberapa puisi melankolisnya. Namun, ia sering melakukan pengulangan diksi yang sama beberapa kali pada puisi-puisinya yang berbeda. Tetapi agaknya itu bukanlah permasalahan namun justru ciri yang melekat.

Pengarang mencipta puisi. Puisi menentukan nasibnya sendiri. Kita lihat saja keputusan juri Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini.(92)

—- Dhoni Zustiyantoro, wartawan Suara Merdeka, pengajar pada Prodi Sastra Jawa Unnes

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dhoni Zustiyantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 29 November 2015

Share:

Jumat, 20 November 2015

Korrie Layun Rampan, Keteguhan Sang Penyair di Jalan Sepi dan Pesan Kepada Penerbit


USIA
Di laut kebar layar, silhuet gemetar
Di darat tunas tunas tumbuh, tunggul terbakar.
Bianglala, keranda diusung
Duka, bayang bayang murung
(Korrie Layun Rampan, 1975)

Sajak "Usia" dari penyair Korrie Layun Rampan itu dinukil dari sajak-sajak Korrie yang dimuat di harian Kompas, Selasa, 14 Oktober 1975. Saat itu, usia Korrie 22 tahun dan karya tersebut menjadi karya pertamanya yang bisa dilacak di arsip harian Kompas.

Karya pertama di Kompas itu bernuansa sedih, yang kiranya masih relevan untuk mengawal kepergian beliau. "Duka, bayang-bayang murung" masih menggelayuti kehidupan Korrie saat membaca tulisan terakhir Korrie di Kompas pada 11 November lalu, atau delapan hari yang lalu sebelum ia berpulang. Maka, "keranda diusung" akan menyertai kepergian sang penyair itu esok hari.

Korrie, kelahiran Samarinda, 17 Agustus 1953, telah meninggalkan kita semua pada Kamis (19/11). Ia merupakan penulis, penyair, dan sastrawan yang pernah tinggal di Jakarta, tapi kemudian memilih menepi ke daerah asal yaitu di Sendawar, Kuta Barat, Kalimantan Timur.

Walaupun ia termasuk penulis produktif, dan pernah menjadi anggota DPRD, namun hidupnya hingga akhir hayatnya selalu sederhana. Jalan hidupnya pantas menjadi renungan kita saat ini, bagaimana seorang Korrie memilih untuk berjuang dari daerah, di tengah berbagai persoalan di daerah. Ia berusaha memperjuangkan haknya atas royalti buku pada penerbit yang pernah menerbitkan buku-bukunya, namun sebagian tak berhasil.

Setelah sajak-sajak pertama Korrie dimuat di Kompas, Korrie rajin mengirim karya, baik berupa sajak, cerita pendek, maupun resensi buku. Di arsip Kompas sendiri, pencarian dengan kata kunci Korrie Layun Rampan telah menghasilkan 133 tulisan terkait.

Korrie tak hanya larut dalam karya-karya sastranya. Ia seolah berusaha menjadi manusia total, berhadapan dengan berbagai problem domestik dan kedaerahan ketika ia pulang kampung, benar-benar pulang kampung dalam arti sebenarnya.

Wartawan Kompas M Suprihadi pernah mengisahkan betapa dramatisnya saat ia mendengarkan kisah Korrie yang pulang kampung membangun kampung. Ia mewawancarai Korrie dan kemudian menurunkan laporan di harian Kompas berjudul "Korrie Layun Rampan, Tinggalkan Kemapanan untuk Kampung Halaman" yang dimuat pada 26 Desember 2001.

Tulisan itu terasa indah namun juga terasa memilukan bagi pembaca ketika seorang Korrie berjuang total. Simak cuplikan artikel di Kompas yang ditulis M Suprihadi ini:

(alm) Korrie Layun Rampan
Korrie, si penulis roman Upacara, memang pulang kampung dalam arti sebenarnya. Bukan sekadar menengok kerabatnya yang sekarang banyak jadi pejabat di Kabupaten Kutai Barat yang baru berumur tiga tahun. Istri dan tiga dari enam anaknya ia boyong ke Melak, ibu kota Kabupaten Kutai Barat, meninggalkan segala kemapanan yang dimilikinya di Jakarta. Meninggalkan komunitas sastra dan intelektual Jakarta yang digelutinya selama 30 tahun.

Sejak Maret 2001, ia mengembangkan Sentawar Pos, sebuah surat kabar mingguan yang dikatakannya menjawab kebutuhan informasi masyarakat Kutai Barat. Dengan hanya dibantu seorang wartawan, Korrie dan istrinya harus jatuh bangun mempertahankan usahanya. "Tidak ada fasilitas apa-apa di sini. Lima komputer pinjaman dari pemerintah kabupaten. Satu komputer saya pinjam dari keponakan saya. Kamera saya satu-satunya sudah pecah saat meliput ke Long Pahangai," kata mantan Redaktur Pelaksana Majalah Wanita Sarinah yang ia tinggalkan karena konflik kepentingan para pemilik modalnya itu.

 Sekitar 12 tahun kemudian, Kompas kembali mengangkat sosok Korrie Layun Rampan, seolah memberi informasi mutakhir kondisi Korrie saat itu. Wartawan Kompas Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya menulisnya dengan judul "Korrie, Memilih Menyepi" yang dimuat pada 1 Desember 2013.

Nuansa perjuangan dan kepiluan masih terasa dari tulisan tersebut. Simak nukilan tulisan tersebut di bawah ini:

Papan nama ”Rumah Sastra Korrie Layun Rampan” di halaman terhalang semak belukar. Bahkan rumah kediaman sastrawan Korrie Layun Rampan (60), yang menyerupai kastil tua, telah ditumbuhi pohon-pohon liar di sana-sini. Tak ada pagar, tak ada teras. Dari halaman kita bisa langsung ke ruang tamu yang kecil.

Sungguh tak mudah menghubungi Korrie. Beberapa minggu sebelum berangkat ke Melak, Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, kami telah mengontak telepon selulernya. Tak ada jawaban. Bahkan kami menulis di laman FaceBook Korrie dan Hermiana, istrinya, bahwa kami ingin bertemu di Sendawar, ibu kota Kubar, di mana sekarang Korrie memilih tinggal.

Tak ada jawaban juga. Sampai dua hari kami menginap di Melak, kota kecamatan kecil, 15 kilometer dari Sendawar, sebuah pesan masuk via telepon, malam hari. ”Ini hp sy. sy baru pulang dari hutan. Korrie.” Setelah menanyakan kapan bisa bertemu, kira-kira 15 menit kemudian Korrie mengirim pesan lagi dalam huruf-huruf seperti ini, ”Besok boleh, di rumah, biar tahu rmh sy. DI JL POROS BARONG TONGKOK-SEK DARAT, DEPANNYA ADA PLANG RUMAH SASTRA KORRIE LAYUN RAMPAN.”

Singkat cerita kami akhirnya bertemu di Kampung Sekolaq Joleq, RT 005, Kecamatan Sekolaq Darat, Jalan Poros Barong Tongkok, Sendawar. Di kampung ini rumah jarang-jarang. Sebagian besar wilayahnya berupa semak belukar dan hutan.

”Di sini sinyal telepon naik-turun. Jadi kalau saya terima sms belum tentu bisa langsung dijawab. Saya harus pergi ke jalan untuk membalasnya,” kata penulis 357 judul buku ini. Kami membayangkan berapa kali Korrie harus keluar ke jalan raya ”hanya” untuk membalas pesan-pesan kami via telepon.

Sudah 12 tahun berlalu, namun Korrie tetap bergumul dengan keadaan di sekitarnya. Walaupun ia mampu hidup layak di Jakarta, misalnya, namun itu tak dilakukannya. Korrie pernah menjadi anggota DPRD, karena itu jika hanya ingin mengejar gemerlapnya dunia, pasti ia mampu. Simak kembali tulisan wartawan Kompas Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya di bawah ini:

”Kami minta maaf, telah merepotkan Anda.”

”Ya begitulah. Ini pedalaman, terpencil dari peradaban, sampai sinyal pun sulit,” balas sastrawan yang memulai karier bersastranya saat kuliah di Yogyakarta. Sekitar tahun 1970-an bersama Emha Ainun Nadjib dan (alm) Linus Suryadi AG, Korrie menjadi peserta aktif komunitas sastra yang dipimpin penyair Umbu Landu Paranggi di kawasan Malioboro.

Mengapa memilih menyepi di kampung?

Mencari kekayaan? Sudah lewat itu. Saya mau meninggalkan nama baik kalau saya sudah tidak ada. Biar ada yang tahu, oooh Pak Korrie itu orangnya baik. Itu saja….

Anda pernah jadi anggota DPRD Kubar periode 2004-2009, itukah semangat membangun kampung halaman?

Enggak kuat saya di DPR, itu bukan tempat saya. Tempat saya itu menulis, saya ini sastrawan. Saya darah tinggi itu karena di DPR. Kita berjuang melawan orang banyak yang bodoh-bodoh. Mereka pakai tangan, kita pakai otak. Siapa yang mendukung Pak Korrie, satu-dua orang angkat tangan, yang pintar-pintar. Siapa yang mendukung sini, selain Korrie, semua angkat tangan….

Dalam event sastra Indonesia, untuk menghormati kiprah kesastrawanan Korrie Layun Rampan dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), 29-30 September 2005, pernah menyelenggarakan acara khusus untuk pengarang asal Kalimantan tersebut. Bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, diluncurkan buku terbaru Korrie, diikuti pementasan tarian Dayak di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Amir Sodikin
[2] Pernah tersiar di surat kabar (online) "Kompas" 19 November 2015, hari wafatnya Korrie Layun Rampan
Share:

Rabu, 18 November 2015

Pahlawan di Dalam Diri


Krisis kebangsaan takkan pernah bisa menemukan penyelesaian apabila rakyat terus memandang kepahlawanan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. Ketimbang terus menunggu kedatangan pahlawan di luar sana, lebih baik warga menghidupkan kekuatan kepahlawanan dalam diri sendiri. Seperti diingatkan psikolog Carl S Pearson, orang-orang biasa bisa menghadirkan kehidupan luar biasa apabila mampu mendayagunakan apa yang disebutnya sebagai ”the power of mythic archetypes”, yakni mitos tentang fitrah (archetype) kepahlawanan dalam diri.

Menurut Pearson, ada enam model fitrah kepahlawanan dalam diri. Pertama, model yatim piatu (orphan), dengan memandang hidup sebagai penderitaan, dan tugas kepahlawanannya adalah berjuang mengarungi kesulitan. Kedua, model pengembara (wanderer), dengan memandang hidup sebagai petualangan, dan tugas kepahlawanannya menemukan kesejatian diri. Ketiga, model pendekar (warrior), dengan memandang hidup sebagai pertarungan, dan tugas kepahlawanannya adalah membuktikan harga diri.

Keempat, model murah hati (altruist), dengan memandang hidup sebagai komitmen terhadap kebajikan lebih luhur, dan tugas kepahlawanannya adalah menunjukkan pertolongan (pelayanan). Kelima, model bersahaja (innocent), yang memandang hidup sebagai keriangan, dan tugas kepahlawanannya adalah meraih kebahagiaan. Keenam, model tukang sulap (magician), dengan memandang hidup sebagai seni menciptakan dunia, dan tugas kepahlawanannya adalah mentransformasikan diri.

Di tengah kegaduhan pesta pora elite negeri yang mabuk kepayang, yang melupakan dan menelantarkan rakyat sebagai yatim piatu, warga tidak bisa terus meratapi penderitaan sambil melamunkan kedatangan Sang Herucokro. Warga harus bangkit bertempur, menghidupkan fitrah kependekaran dalam dirinya. Dengan menghidupkan jiwa kependekaran, warga bisa menjalani kehidupan lebih gigih dan bertenaga, tak lembek membiarkan kejahatan dan pengkhianatan berjalan tanpa perlawanan. Dengan pengaktifan daya-daya perjuangan, tanpa perlu kekerasan, warga bisa terlibat dalam tarian kehidupan (the dance of life), tidak sekadar penonton yang cuma pandai berteriak, mengumpat, dan mengeluh.

Yudi Latif, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Ketika politik di negeri ini menjelma menjadi seni memerintah dengan menipu rakyat, yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana pemenuhan keserakahan, kepahlawanan yang harus dibangkitkan dari dalam diri adalah jiwa ”murah hati” (altruist).

Di dalam budaya kependekaran, pencapaian adalah segalanya. Namun, kita semua suka dinilai sebagai manusia, terlepas dari apa pencapaian kita. Tanpa orang-orang yang bekerja tanpa pamrih, memberikan cinta dan kepedulian tanpa berharap balasan, kehidupan masyarakat seperti arena transaksi jual beli yang kering dan mandul. Kita perlu memiliki makna hidup yang lebih luas sebagai panduan hidup, yang tidak sekadar didorong oleh nafsu meraih kekuasaan dan uang. Jiwa altruist melambangkan semangat berbagi dan kelimpahan kasih, yang dapat menyuburkan kembali bumi yang tandus. Jika negara ini dirundung banyak penyakit, tiada lain karena yang ditumbuhkan dalam kehidupan adalah rakus dan dengki. Jalan cinta dengan semangat berbagi dan melayani adalah obat mujarab yang memberi kesehatan pada kehidupan.

Akhirnya, di republik korup yang dirayakan oleh maling teriak maling, ratusan undang-undang dibuat untuk dilanggar, dan berbagai prosedur direkayasa untuk menjadi perangkap ketersesatan baru; yang diperlukan untuk mentransformasikan kehidupan adalah aktor politik yang mampu menghidupkan kekuatan magician. Magician menjalani hidup bersahaja (innocent), tetapi lebih aktif sebagai pembuat perubahan. Seorang magician bersedia bangkit berdiri, bahkan jika penuh risiko atau menuntut perubahan revolusioner. Namun, berbeda dengan para warrior, aktor-aktor magician tidak berilusi untuk mengontrol sepenuhnya kehidupan; sebaliknya mereka bersedia membiarkan dirinya menjadi bagian yang ditransformasikan oleh kehendak zaman.

Dengan demikian, mereka mampu membaca arus dan arah pergerakan kehidupan lebih jernih yang dapat memberikan efek perubahan lebih dahsyat, yang tampak seperti magic. Jika para warrior berstrategi menggunakan kehendak dan kekerasan hati untuk membuat perubahan, para magician percaya kekuatan visi akan menciptakan momentumnya tersendiri. Karakter seperti itulah yang tampak dari para magician terkemuka dunia, seperti Mohandas K Gandhi dan Martin Luther King.

Kalau ada yang paling salah dalam proses pembelajaran politik di negeri ini, hal itu tak lain pahlawan selalu ditempatkan di kesilaman di luar diri, tetapi tak pernah dihadirkan di kekinian di dalam diri. Pahlawan selalu merupakan sesuatu tanpa penantian dan kematian, tidak pernah menjanjikan kehadiran dan kehidupan.

Saatnya kita jadikan kepahlawanan sebagai sesuatu yang hidup di dalam diri, sekarang dan di sini, dengan mentransformasikan diri secara terus-menerus sehingga mampu mengubah situasi penderitaan menjadi wahana penempaan diri menjadi seorang magician.

Yudi Latif, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia; Pendapat Pribadi 


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Yudi Latif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  17 November 2015 

Share:

Selasa, 17 November 2015

Berkicau


Setiap pagi saya membaca sejuta kicauan yang dibuat sejuta manusia di media sosial. Ritual ini sudah mirip ritual makan pagi. Bahkan kalau makan pagi berhenti setelah pukul tujuh, membaca kicauan yang sejuta banyaknya itu sering kali berlanjut pada siang, sore, dan malam hari menjelang istirahat malam.

Cermin

Senangnya membaca kicauan-kicauan itu karena banyak macamnya, dan lama-lama mengenal manusianya hanya dari kicauan yang dituliskan. Ada yang bawelnya setengah mati karena semua masalah dikomentari, ada yang supernegatif, yang sok positif, yang provokatif dengan menuliskan kalimat bak belati yang dihunjamkan pembunuh kepada korbannya, sampai sering kali saya terkaget-kaget membacanya.

Ada yang kicauannya mengundang gelak tawa, tanpa melupakan yang memberi semangat serta yang superrajin memberi informasi, baik soal keuangan, politik, dunia selebritas, maupun pengetahuan umum lain. Selain itu, ada yang hanya minta pendapat sederhana, lebih tampan pakai berewok atau tanpa berewok.

Menariknya dari semua kicauan itu, saya mendapatkan banyak informasi tanpa harus membaca koran atau buku-buku setebal bantal. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan, kicauan di media sosial tersebut juga seperti cermin. Saya seperti melihat diri saya sendiri.

Saya ini juga menyindir karena tersakiti. Sindiran yang saya buat itu karena saya tak kuasa melawan yang menyakiti saya. Saya juga berkicau bak seorang motivator andal yang memberi nasihat, petuah, atau apa pun itu yang menyemangati orang lain meski dalam hidup keseharian ketika masalah datang, yang saya tuliskan untuk menyemangati orang lain gagal saya praktikkan kepada diri sendiri.

Saya bisa begitu kesalnya dengan yang saya hadapi pada sebuah hari atau momen sehingga acap kali beberapa orang membalas kicauan saya, dengan kicauan mereka yang prihatin dan kemudian memberikan penghiburan untuk menyemangati.

Kadang saya juga bawelnya setengah mati, semua hal dikomentari seperti orang kurang kerjaan. Meski nurani saya berkomentar, ”Itu bukan kurang kerjaan, emang itu kerjaan elo.” Kadang saya juga ingin orang lain mengetahui betapa pandainya saya tentang sebuah pengetahuan.

Jadi, ritual membaca kicauan itu tepatnya sebuah ritual becermin, seperti setiap pagi saya selalu becermin saat berdandan sebelum berangkat kerja.

Nasi rames

Kicauan yang bak cermin itu belakangan membuat saya berpikir, mungkin manusia itu disebut sempurna bukan karena ia senantiasa tak melakukan yang negatif, tetapi yang seperti nasi rames. Di dalam nasi rames, ada macam-macam lauk, antara lain telor dadar yang diiris, ayam suwir, dan bihun. Rasanya bisa asin, manis, dan bisa jadi pedas.

Maka manusia itu juga ada bawelnya, ada sok pamernya, tetapi bisa juga memberi semangat dan mengundang gelak tawa. Kadang bisa blakblakan, tetapi bisa tersinggung juga dan menjadi seperti belati. Kemudian otak saya mengajukan sebuah pertanyaan.

Bagaimana kalau ada manusia yang berpredikat pemimpin? Apakah mereka ini tidak boleh seperti nasi rames? Karena ada ungkapan bahwa pemimpin itu harus bisa menjadi panutan bawahan. Harus bisa gini, bisa gitu, tidak boleh gini, tidak boleh gitu, harus gini, harus gitu.

Nah, kalau pada suatu hari ada manusia yang biasanya berpredikat bukan pemimpin dan perjalanan kehidupannya mengantarnya menjadi seorang pemimpin, apakah karena perbedaan predikat mereka harus mengubah kemanusiaannya? Kalau iya, bagaimana caranya mengubah kemanusiaan itu? Apakah menihilkan kenegatifan sehingga mereka tak bisa seperti nasi rames lagi?

Kalau pemimpin harus menjadi panutan, berarti ada aturan main yang dibuat agar bisa menjadi panutan. Dan saya yakin aturan menjadi panutan dibuat oleh manusia. Bagaimana caranya sekarang agar aturan main itu yang dibuat oleh manusia yang kadang lemah, kadang kuat, dan kadang juga suka kebablasan itu bisa dieksekusi oleh seorang pemimpin yang berstatus manusia yang juga kadang lemah, kadang kuat, dan bisa kebablasan?

Ternyata otak saya mengajukan satu pertanyaan lagi. Apa artinya sesama manusia? Karena otak saya yang bertanya, otak saya yang menjawab. Otak saya cuma punya IQ jongkok, jadi jawabannya sesama manusia itu yaa... sama-sama manusia.

Sesama manusia itu mengandung arti manusia yang memiliki kemampuan melihat kemanusiaan dalam sesamanya dan bukan melihat predikatnya semata. Sesama manusia itu sama-sama bisa mengerti manusia itu, ya... kayak gitu. Kayak nasi rames, maksudnya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Samuel Mulia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  15 November 2015 
Share:

Paris Diserang Lagi


”Jean...Ada serangan teroris di Paris. Mungkin sampai 150 orang mati”. Berita itu jatuh begitu saya, tadi, di dalam bentuk pesan singkat ketika saya sedang asyik menikmati keragaman ala Indonesia di Borobudur Writers and Culture Festival. Astaga!

Yang pertama datang ke benak saya, sebagai reaksi atas pembantaian keji itu, ialah Paris puluhan tahun yang lalu, ketika kami, para mahasiswa Perancis, 80.000 jumlahnya, berdemo di kota yang sama demi ”persaudaraan” manusia. Sepanjang jalan kami berteriak: ”Kami semua adalah Yahudi Jerman”, sebagai tanda solidaritas terhadap tokoh mahasiswa ’Cohd-bendit’ yang dua kali dianggap oleh masyarakat tertentu ”hina”, sebagai orang Jerman yang sekaligus Yahudi, dan mau diusir dari Perancis oleh pemerintah karena alasan politik.

Sekarang, sebelum kecurigaan tertuju kepada orang-orang Arab dan orang-orang Islam, saya ingin berteriak, dan berharap semua orang Perancis bakal berteriak: ”Kita semua adalah orang Arab nan Islam, sebagai tanda solidaritas terhadap mereka yang pasti bakal dicurigai meski tak bersalah”.

Enam bulan yang lalu, ketika kaum teroris membunuh secara keji hampir seluruh tim editorial majalah Charlie Hebdo, yang diserangnya ialah prinsip pertama Revolusi Perancis tahun 1789, yaitu Liberté: kebebasan berpikir yang mutlak, hak untuk berbeda pendapat dan bersikap merdeka. Kini, yang diserang adalah prinsip ketiga, yang lebih mendasar lagi: Fraternité, yaitu persaudaraan umat manusia, pernyataan bahwa kita, umat manusia, pada dasarnya ”bersaudara”, apa pun ras, bangsa, atau agama dan kepercayaan setiap orang.

Saya bukan tanpa menyadari bahwa, seperti halnya Pancasila, baik ”Liberté, Egalité, maupun Fraternité” (Persaudaraan), tidak pernah akan berhasil diwujudkan secara sempurna. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tidak harus diperjuangkan. Kini, apa pun alasan sejarah yang dijadikan dalihnya, kita tidak boleh membiarkan beredar tafsir yang tidak hanya hendak memisahkan dan melakukan diskriminasi antara kita berdasarkan agama yang kita anut, tetapi yang lebih jauh lagi, bersedia membunuh atas nama agama itu sendiri. Tafsir tersebut merupakan pengkhianatan terhadap kemanusiaan dan rasa keadilan untuk berketuhanan.

”Mengapa serangan seperti ini bisa menimpa Paris untuk kedua kalinya di dalam 10 bulan?” tanya seorang teman wartawan. Oleh karena prinsip ”liberté” di atas: orang bisa berpikir apa saja asal tidak memperlihatkan maksud melakukan kekerasan. Kaum salafi yang menjanjikan neraka tidak masalah. Masalah timbul bila terdapat anggota dari kaum itu merasa dirinya menjadi tangan Tuhan untuk mengirim orang ke neraka itu. Maka salah satu risiko mendatang untuk Perancis ialah dimaklumatkan berbagai undang-undang yang dapat mengancam kebebasan berekspresi, yakni liberté itu. Misalnya, bila ragam salafisme damai itu dilarang, demokrasi terancam dan prinsip revolusi Perancis (Liberté, Egalité, Fraternité) dikhianati. Hal ini bisa saja terjadi bila pada pemilihan umum mendatang partai ekstrem kanan (ultra-nasionalis) menumbangkan pemerintahan garis tengah yang kini berkuasa.

Harus disadari bahwa radikalisme Islam tidak muncul di Perancis secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari aneka luka sosial dan historis: Pendirian negara Israel (1948); Perang kemerdekaan Aljazair (1954-1962); kenyataan bahwa banyak migran Magribi kini merupakan ”proletariat” baru yang menemukan ”bahasa perlawanan” bukan dalam komunisme, yang mati, tetapi di dalam tafsir harfiah agama Islam. Bila ditambah alasan luar negeri: Perang di Syria/Irak, guncangan di Sahel dan Afrika Tengah, alasan untuk memusuhi Perancis berjibun. Hal-hal ini tidak berarti bahwa tidak ada orang Magribi Islam yang berintegrasi dengan baik. Menteri Pendidikan adalah wanita Maroko; banyak tentara Perancis beragama Islam atau Yahudi.

Peristiwa yang kini menimpa, seperti peristiwa yang beberapa tahun yang lalu menimpa Indonesia, menunjukkan betapa kita perlu memperkuat sarana komunikasi dan mediasi bukan hanya antarbangsa dan kelas sosial—seperti umum dilakukan selama ini, tetapi juga antarsistem kepercayaan.

Berkenaan dengan ini harus kita sadari bahwa hal ini semakin sulit dilakukan oleh karena guncangan-guncangan makro yang mengoyakkan tatanan sosio-ekonomi dan sosio-kultural global. Namun, kita tidak boleh membiarkan aneka persaingan yang mencirikan sistem global menjelma menjadi ”kebencian”. Harus kita ciptakan instrumen penanggulangan. Bila hal ini dirasakan sulit, kita harus mengingat kata-kata Martin Luther King. ”Darkness cannot drive out darkness, only light can do it. Love cannot drive out hate, only love can do it” (”Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian, hanya kasih yang bisa”). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jean Couteau
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 15 November 2015
Share:

Kamis, 12 November 2015

Pengarang dan Honorarium


Pada zaman Orde Baru pernah terjadi boom ekonomi bagi pengarang, penulis, dan sastrawan Indonesia dalam Proyek Inpres.

Waktu itu, pengarang diberi kebebasan menulis dan menerbitkannya. Maraklah penerbit di semua provinsi dan lahir para pengarang muda.

Kondisi itu memberi efek berganda bagi para pengarang dan penerbit. Para pengarang produktif—dan bermutu—yang karyanya dipesan dapat membeli kebutuhan hidup sehari-hari, rumah, mobil, dan sebagainya karena pemerintah memesan karya mereka dalam jumlah puluhan ribu eksemplar sehingga setiap tahun para pengarang mendapat penghasilan ekstra.

Setelah bergulirnya otonomi daerah, sejumlah kebijakan diserahkan ke daerah. Banyak daerah menganggap persoalan perbukuan kurang penting. Yang penting adalah pembangunan infrastruktur, seperti jalan, gedung, dan jembatan. Buku nanti dulu, yang penting anak-anak usia sekolah bisa melek aksara.

Berpindahnya kebijakan pusat seiring otonomi daerah membuat daerah harus memulai sesuatu yang baru, termasuk kebijakan mengenai perbukuan. Saya pernah mendapat surat penolakan bantuan pusat mengenai masalah perbukuan dari salah satu departemen bahwa kebijakan perbukuan itu ada di daerah sebab Proyek Inpres yang sentralistik sudah ditiadakan.

Masuk masa sukar

Korrie Layun Rampan
Pengarang produktif yang hanya menggantungkan hidup dari penulisan buku dan artikel di media mengalami masa sukar dengan berhentinya Proyek Inpres. Tak ada lagi harapan mendapat honorarium memadai yang tak terduga. Bahkan, ada penerbit besar menyurati saya, tidak akan menerbitkan naskah apabila estimasi penjualan tidak sampai sepuluh ribu eksemplar setahun.

Menulis untuk media massa hasilnya kurang menentu karena banyak pengarang menyerbu media massa, di samping honornya kecil. Bahkan, ada koran dan majalah yang tidak memberi honor, terutama di daerah.

Pengalaman penulis, meski ini pengalaman personal, dapat kiranya jadi renungan bersama. Selama dua tahun mendapat honor dua juta rupiah dari dua buku di penerbit di Yogyakarta dan dari penerbit di Jawa Barat, selama dua tahun, belum mendapat sepeser pun honor dari empat buku. Bahkan, saya berutang sepuluh juta rupiah untuk biaya teman-teman menulis buku mulok untuk penerbit itu.

Hal yang lebih parah adalah Penerbit Negara Balai Pustaka yang sejak tahun 2001 sampai 2015 ini tidak membayar royalti buku-buku saya yang jumlahnya 13 judul. Kalau saja setiap bulan ada lima ratus ribu dari setiap judul bukusaya di Balai Pustaka itu, dapat dihitung berapa besar pendapatan yang saya terima setiap bulan sampai hari ini.

Memang ada puluhan penerbit yang tetap membayar royalti sesuai SPP kepada saya; bahkan dahulu Balai Pustaka pun demikian. Sebelum saya pindah ke Kalimantan Timur, 2001, setiap bulan royalti buku-buku saya selalu ajek dibayar oleh Bagian Keuangan Balai Pustaka.

Entah mengapa, setelah saya tidak di Jakarta, honor itu macet. Beberapa kali saya menyurati Balai Pustaka, tetapi tidak pernah direspons. Bahkan, surat saya yang dikirim via Ibu Riny dan Pak Oyon Sofyan di PDS HB Jassin pun tidak dijawab.

Kalau dibandingkan dengan para pengarang di luar negeri (Eropa dan Amerika), seharusnya saya hidup mewah. Saya telah menulis 357 buku. Pernah menjadi anggota DPRD meski ke luar sebelum selesai masa jabatan dan memimpin media massa di pusat dan daerah.

Setelah berhenti dari segala pekerjaan itu, sayasepenuhnya hidup dari menulis. Akan tetapi, karena honor buku-buku saya mengalami banyak kendala, saya hidup sangat sederhana. Terakhir ini saya terbantu karena sejak 2013 sampai kini Pemerintah Daerah Kutai Barat menyubsidi saya untuk menulis buku-buku berwarna lokal yang memuat kearifan lokal. Sampai tahun ini (2015), telah selesai enam judul, di antaranya Kamus 5 Bahasa (yang tebal) dan tahun 2016 siap beberapa judul lagi. Akan tetapi, bagaimana para sastrawan di daerah lain? Apakah pemprov dan pemkab menyubsidi mereka?

Persoalan nasional

Ini persoalan nasional para pengarang dan sastrawan Indonesia. Saya yang menulis ratusan buku mengalami kendala seperti itu, bagaimana nasib yang baru menulis dua-tiga buku? Saya tidak tahu kondisi ekonomi Gerson Poyk, Nh Dini, dan Hamsad Rangkuti, tiga nama yang sepenuhnya hidup dari mengarang.

Saya berharap kepada penerbit, tolong bantu para pengarang dengan laporan penjualan buku setiap enam bulan sesuai SPP dan janganlah menelantarkan pengarang sampai lima belas tahun seperti yang saya alami. Bagaimana bisa membangun bangsa kalau pembayaran royalti saja diulur bertahun-tahun.

Dari mana pengarang membeli buku-buku referensi kalau pengarang diperbodoh atas hasil karyanya? Bukankah perbuatan semacam itu dosa dalam demokrasi ekonomi Pancasila?

Korrie Layun Rampan, Sastrawan, Tinggal di Sendawar, Kutai Barat, Kaltim 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Korrie Layun Rampan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Rabu 11 November 2015


Share:

Rabu, 11 November 2015

Parodi: I Wish


Setelah beberapa kali menyaksikan serial televisi Scandal, baru belakangan ini timbul pertanyaan. Apakah setiap manusia itu berhak jatuh cinta kepada siapa pun? Termasuk jatuh cinta kepada pasangan orang lain yang sudah menikah? 

Bubur ayam

Jatuh cinta yang saya maksud bukan sekadar 'cinta monyet', tetapi benar-benar jatuh cinta. Artinya menjalani hari-hari penuh asmara, dan di dalam serial televisi di atas, si pria yang adalah Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk menceraikan istrinya.

Saya bahkan sama sekali tak terusik ketika Olivia Pope sebagai pemeran utama menjelaskan kisah asmaranya di layar televisi sebagai sebuah pertanggungjawaban hubungan asmaranya yang tadinya gelap, dan yang sekarang menjadi terang benderang.

"I wish we'd never met. But we did. And I tried. I tried and failed again to hide. To stop loving him. I was weak. I hated myself. And when our affair was exposed, I had to follow my own advice and stand in my truth."

Waktu mendengar penjelasannya itu mulailah otak saya terpancing mengajukan berjuta-juta pertanyaan seputar cinta. Saya sampai mengirimkan pesan kepada teman-teman saya yang juga menyukai serial itu. Sayangnya, jawaban mereka tak bisa saya tuliskan di sini.

I wish we'd never met. But we did. Apakah kalimat ini mengukuhkan bahwa benarlah kalau cinta itu tak bisa diatur datangnya dan tak bisa diatur kepada siapa kita akan jatuh cinta? Seandainya sebuah kata yang menjelaskan ketidakmampuan manusia memprediksi akibat dari sebuah kejadian. Seandainya hanya lahir ketika nasi telah menjadi bubur.

Tetapi, mengapa penyesalan tetap terus dilakukan? Karena nasi sudah menjadi bubur. Tambahkan saja ke dalamnya potongan ayam, kecap asin sedikit, telur setengah matang, daun bawang, maka yang tadinya disesali telah menjadi bubur, kemudian berakhir dengan menjadi bubur ayam yang enak.

And I tried and failed to stop loving him. Bagaimana orang setangguh Olivia Pope ambruk juga karena cinta? Sesungguhnya saya mengerti waktu ia mengatakan itu. Saya pernah melakukan sebuah hubungan gelap. Saya telah mencoba dan mencoba dan gagal untuk berhenti mencintainya. Bahkan sampai hari ini, ketika di dalam kepala saya tak bisa menepis yang saya cintai itu. Teman-teman saya mengatai saya bodoh.

Maju atau mundur

Apakah menjadi bodoh, menjadi tak berdaya, adalah sebuah kesalahan? Kalau itu dianggap salah, siapakah yang salah? Manusianya sebagai pelaku cinta, atau cinta yang memberi efek melemahkan dan membuat bodoh seseorang?

Orang hanya menudingkan jarinya pada perselingkuhan. Orang tak mau dan bukan tak bisa mengerti, bahwa ada manusia yang jatuh cinta bukan sekadar sebagai sebuah permainan, tetapi akibat dari efek yang ditimbulkan cinta. Itu mengapa sekarang saya mengerti kalau Olivia mengatakan: "I wish we'd never met."

Karena seandainya ia tahu bahwa cinta itu seperti ini, ia tak akan melakukannya karena akan melukai semua orang. Tetapi, apa dayanya seorang Oliva menghadapi kekuatan efek dari cinta? Ia tak berdaya. Saya tak tahu kalau Anda. Saya juga tak tahu apakah kalau perkawinan sudah berlangsung sekian tahun, Anda bisa dianggap telah kuat dan hidup dalam kebenaran cinta?

Saya juga tak tahu apakah kekuatan yang Anda miliki sesungguhnya karena ada obat kuat dalam bentuk keberadaan seseorang di luar pasangan resmi yang Anda miliki, yang mampu memberi energi dalam menjalani perkawinan yang naik dan turun.

I was weak and I hated myself. Ucapan itu buat saya, selain sebuah pengakuan diri, juga bentuk nyata dari kebiasaan menganggap efek cinta selalu benar. Yang dianggap tidak benar itu adalah manusianya yang lemah, sehingga kebiasaan menganggap efek cinta itu benar, telah berakibat membuat seseorang membenci dirinya sendiri.

Padahal, bukankah manusia itu sendiri tahu bahwa mereka adalah makhluk yang juga lemah, bahkan ketika tidak sedang jatuh cinta. Menjadi sakit, menjadi koruptor, menjadi playboy, suka marah dan memaki, bukankah itu juga sebuah kelemahan?

Jadi mungkin, hanya mungkin, kelemahan manusia itu tidak boleh dimintai pertanggungjawaban. Sungguh tidak bermoral kalau kita meminta pertanggungjawaban itu. Meski itu adalah inti permasalahannya. Lebih bermoral kalau kita menuduh orang menjadi lemah dan membuat mereka merasa bersalah.

And when our affair was exposed, I had to follow my own advice and stand in my truth. Apakah kebenaran dalam cerita asmara Olivia dan Sang Presiden? Mereka jatuh cinta. Itu kenyataannya. Saya tak sedang mengaminkan perselingkuhan dengan tulisan ini. Sejujurnya tulisan adalah sebuah pertanyaan dan pergumulan panjang. Bahkan di pengujung tulisan ini saya masih ingin bertanya kepada Anda dan diri saya sendiri.

Apakah saya dan Anda, baik yang lajang maupun sudah menikah sekian tahun, bisa mengatakan kalau saya sudah I stand in my truth? Apakah kebenaran yang sesungguhnya itu menakutkan sehingga sebaiknya mundur saja, ataukah ungkapan the truth set you free itu seharusnya dilakoni meski akan ada banyak tangan yang menuding, sehingga maju tak gentar menjadi pilihan? 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Samuel Mulia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  8 November 2015 
Share:

Selasa, 10 November 2015

Psikologi: Berdiri di Atas kaki Sendiri


Suara yang terpenting dalam interaksi kita dengan orang lain adalah suara hati kita sendiri. Kita membutuhkan diri kita sendiri untuk mengamati, memproses informasi yang datang.

Kita seyogianya memanfaatkan suara kuat untuk memahami relasi yang telah terbina dengan cara yang lebih tajam dan fokus terhadap kemungkinan perubahan di masa mendatang.

Hindari fantasi tentang kemungkinan perubahan perilaku pasangan kita di kemudian hari. Apabila kita tidak mampu melakukan hal tersebut di atas, akan sulit bagi kita untuk meyakini jalinan relasi tersebut di masa mendatang. Namun, apabila kita yakin dan percaya pada diri kita sendiri, yang menyatakan bahwa ada beberapa aspek perilakunya yang tidak bisa kita toleransikan dan posisi kita di hadapannya terasa kurang pas, apalagi, jika pada dasarnya keputusan yang kita ambil tentang peluang menjadi pasangan tetap, kita lakukan dengan cara yang kurang mantap.

Kondisi relasi di masa mendatang

Suatu ketika X bertemu dengan pria yang menarik perhatiannya dalam satu kegiatan sosial, dan rupanya pria itu pun tertarik pada X. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Setelah masa pacaran berjalan, pada bulan-bulan awal, X benar-benar merasakan perhatian dan sikap pacarnya sangat baik, melindungi dan dirasa sangat mengasihi dirinya.

Namun, ternyata beberapa saat kemudian X merasa sikap pacarnya (katakanlah, namanya Y) menjadi sangat posesif. Y melarang X untuk mengikuti diskusi kelompok studinya di sore hari. Y juga melarang X menonton film dengan teman-temannya. Bahkan, Y juga melarang X yang sudah merencanakan pergi berkemah dengan keluarga besarnya, karena Y akan mengambil cuti dan ingin menghabiskan masa cutinya bersama X.

X berkata: "Sebenarnya saya menghargai dan menghormati Y. Namun, akhir-akhir ini Y semakin bersikap posesif. Saya tidak mau putus hubungan, tapi sekaligus saya mencemaskan sikap dan perilaku Y yang semakin posesif adanya. Apa yang harus saya lakukan?"

Untuk itu, X tidak perlu marah terhadap Y, dan X juga tidak perlu "bête" dengan sikap dan perilaku Y yang punya perspektif sangat berbeda dengan dirinya. X tidak perlu menutup mata terhadap perilakunya sendiri, dan tidak pula mulai menyerahkan hidupnya pada pacarnya. Dalam artian, tetaplah hadir pada acara diskusi studi di sore hari, karena semakin X mematuhi larangan-larangan Y, sikap posesif dari Y justru akan semakin kuat.

Jadi putuskan untuk pergi berkemah dengan keluarga besarnya, tetap pergi menonton dan lain-lain. Jadi X seyogianya berani mengatakan "tidak" terhadap larangan-larangan Y, tetapi tetap mencari jalan lain agar mendapatkan situasi yang membuat Y tetap merasa puas dalam kebersamaannya dengan X. X hendaknya mampu memelihara alur komunikasi dengan Y secara terbuka dan mendengarkan perasaan serta memperhatikan Y dengan baik.

Ketahuilah bahwa X membutuhkan bertahan dalam kemandiriannya dan menyatakan bahwa kemandirian sebagai hal terpenting dalam kehidupannya. Dalam hal ini tidak berarti X harus bersikap kaku dan tidak kompromistis, karena setiap interrelasi menuntut sikap "give and take". Namun, tentu saja dengan konsekuensi sebagai berikut, yaitu mungkin Y dapat dan mau menerima tuntutan kemandirian X atau justru sikap X tersebut akan membuat Y meninggalkannya.

Hal yang perlu disimak adalah bahwa tantangan suatu relasi yang intim adalah membedakan "diri" dan "kami", tanpa harus menanggalkan karakter individu masing-masing. Jadi, apabila kita dihadapkan pada satu pilihan, kita membutuhkan kesempatan bicara secara terbuka. Untuk itu pertahankanlah perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang kita miliki dari awal kehidupan kita.

Tambahan lainnya adalah kita harus banyak bicara, mengamati, berpikir dalam berbagai situasi agar proses pengenalan dan proses dikenal antara diri dan calon pasangan kita dapat berjalan dengan baik. 

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Sawitri Supardi Sadarjoen
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 8 November 2015
Share:

Udar: kemarin dan Esok adalah Hari Ini


Pada seputar Hari Sumpah Pemuda akhir Oktober lalu, perbincangan yang berkaitan dengan bahasa Indonesia terjadi di mana-mana, termasuk di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Di situ saya salah satu pembicara. Diskusi berhubungan dengan kritik sastra, menyangkut peranan media cetak di tengah perkembangan dunia cyber.

Dalam berbagai pembicaraan mengenai media cetak dan media cyber, media digital, saya selalu menegaskan posisi saya bahwa saya bertumbuh dalam tradisi koran, tradisi buku, tradisi media cetak.

Rezim pemikiran seperti kami menganggap, milenia yang telah berlalu, yang jejak tapaknya sebagian masih melingkupi hidup kita, adalah suatu peradaban atau sivilisasi yang dibentuk oleh tradisi literer. Ini berhubungan dengan proses evolusi manusia. Memori, kesadaran, consciousness, menjadikan protoself bergerak meninggalkan proto seangkatannya, menjadi manusia.

Proses evolusi manusia sebagai makhluk berkesadaran makin dipercepat dengan dilahirkannya buku, dimulai setahap demi setahap sejak ditemukannya papirus sebagai alat tulis, ribuan tahun sebelum Masehi. Memori dan nalar atau reasoning itulah yang membuka jalan bagi versi lanjut kesadaran, yang kemudian melahirkan kebudayaan dan sivilisasi.

Media cetak seperti buku, koran, dan majalah, telah menjadikan bahasa bukan saja sebagai sarana komunikasi, melainkan juga sesuatu yang berhubungan dengan ekspresi, kognisi, dan imajinasi. Dari situlah otak, mind, menunjukkan bukti superioritasnya, yang mewujud antara lain dengan lahirnya teknologi, industri, yang merekahkan modernisme.

Kini kita masuk zaman digital. Semua aspek yang tak dicapai oleh perkembangan manusia pada milenia sebelum ini, obsesi mengenai kecepatan, kebergegasan, kesegeraan, kepraktisan, kesadaran baru mengenai ruang dan waktu, berhasil dipecahkan oleh teknologi digital.

Bersamaan dengan itu, sivilisasi yang terbangun oleh proses literer sebelumnya dirongrong oleh kesadaran baru manusia mengenai apa yang mereka hendak pahami sebagai kenyataan, reality, kasunyatan. Banyak aspek kesadaran manusia terkorup oleh kesadaran baru dari kebudayaan visual dunia digital.

Semuanya: politik, ekonomi, sosial, agama, rumah tangga, asmara, dan lain-lain. Tak terbayangkan, kalau bercinta pun harus efisien dan cepat. Bahasa mengalami epidemi yang terus meluas. Anda akan sulit berkomunikasi kalau tidak paham istilah LOL, XOXO, FYI, ciyus, dan seterusnya.

Ada yang terputus dari perkembangan ini. Bukan saja antara sesuatu yang real atau nyata dengan yang hyper-real alias melampaui kenyataan, tetapi juga antara otak dan tubuh, antara mind dan body.

Dulu kami menulis dengan mesin tik. Di situ diperlukan pembelajaran tubuh, tepatnya pembelajaran jari: huruf a, q, z pada mesin tik, misalnya, dipencet dengan kelingking kiri. H, y, n, dengan telunjuk tangan kanan, dan seterusnya. Begitulah praktik mengetik 10 jari. Terjadi proses penyelarasan pikiran dengan jari sebelum memori beralih ke tubuh sampai kemudian kami mengetik tanpa perlu memikirkan jari lagi. Memori otak telah melekat pada memori tubuh.

Krida memori seperti itu kini tak diperlukan, kecuali Anda berlatih olah kanuragan. Memori artifisial dunia digital mengambil alihnya. Lebih praktis, lebih mudah, istilahnya user friendly, lebih cepat, termasuk mungkin lebih cepat hidup, buru-buru ke akhirat.

Sejatinya, asas kecepatan bukanlah segala-galanya. Koran, yang dalam proses produksinya tak memungkinkannya terbit setiap menit, setiap detik, melainkan setiap hari, jelas memberitakan kejadian kemarin.

Adakah yang kemarin masih relevan kalau media digital mampu memperbarui informasi setiap detik?

Ya, ya, jawabannya tergantung bagaimana kita mengartikan sesuatu yang penting, utama, dan substansial bagi hidup kita. Yang kemarin pun, berkemungkinan lebih aktual, lebih bermakna, dibandingkan kicauan yang berkembang setiap detik.

Mengutip penyair Rendra: kemarin dan esok adalah hari ini. 

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Bre Redana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  8 November 2015 
Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

Menghidupi Sastra Etnik


Tulisan IB Putera Manuaba, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unair, Surabaya (Kompas Minggu, 6 September 2015 halaman 27), akan menginspirasi banyak pihak. Sastra etnis dalam kacamata antropologi jelas berkaitan dengan manusia sebagai pencipta sastra, bahkan mendekat dengan kebudayaan secara umum.

Jika antropologi linguistik bertugas mengungkap manusia sebagai pengguna bahasa, maka antropologi sastra menyorot manusia melalui wilayah sastra. Betapa tidak, karena para penutur sastra dan pemerhati sastra etnik di belahan Nusantara akan terbangun membaca wilayah medan tutur dan nilai roh sastra miliknya dengan bergairah. Jika demikian, maka fenomena ini telah berhasil menjadi tanda dan makna, bahwa sastra etnik masih dipertahankan dan akan terus dihidupi oleh para penutur terlebih para penciptanya, dan tentu dengan bahasa mereka.

Sama nasibnya tentu dengan bahasa etnis atau dialek dalam ranah kearifan lokal. Jika para pemilik bahasa lokal sudah mulai malu menggunakan bahasanya sendiri dan lebih menyukai bahasa Indonesia, atau bahkan lebih ”merasa” bergengsi menggenggam bahasa asing, maka tunggulah saatnya kematian bahasa dan sastra etnik itu. Penulis lebih menyebut dan menggabungkan sastra etnis dengan bahasa etnis karena peran bahasa lebih dominan menjadi pembungkus budaya etnis, termasuk sastra etnik sebagai wujud budayanya.

Sastrawan Jawa nasional Esmiet (almarhum) meramalkan bahwa bahasa dan sastra Jawa akan segera mati pada jam Sembilan tanggal Sembilan bulan Sembilan tahun dua ribu Sembilan. Walaupun ramalan Esmiet (baca: Sasmito) tidak mempan dan kurang terbukti, setidaknya mengingatkan dan menyulut kenyataan bahwa bahasa dan sastra Jawa tahun itu sebenarnya telah ditinggalkan penuturnya karena alasan perkawinan lintas etnis, urbanisasi, dan arus budaya global. Sehingga ditolong dengan kecanggihan ICT (information, communication,dan technology) bentuk apa pun, kekronisan bersuka ria menjadi penggiat sastra dan budaya etnik tak dapat dipaksakan. Bahkan, mereka (para penggila budaya global yang mulai meninggalkan jejak sastra etnis) sudah menemukan jalan hidupnya sendiri.

Sebagai gebrakan dalam ranah local genius dalam tinjauan budaya filsafati Jawa, sastra etnis harus diberi ruang bebas yang aman, nyaman, dan menenteramkan. Sudah jarang terlihat orang menyanyi ura-ura di teras rumah, di gubuk sawah, atau menyanyi ”Ngapote” di tepi pantai, atau juga menyanyi ”Umbul-umbul Belambangan” bagi etnis Using Banyuwangi yang notabene sebagai penggiat sastra etnis, tetapi kini yang ada adalah orang ribut ber es em se ria dengan kenalan-kenalan dan koleganya tanpa batas pandang. ICT dalam kosa rupa apa pun juga belum memberi nilai tambah bagi berkembangnya sastra etnik. Maka begitulah nasib sastra etnik yang sebenarnya.

Satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menghargai sastra etnik adalah dengan jalan (1) membiasakan menggunakan peranti sastra etnik dalam hidup keseharian, misalnya ngobrol santai dengan bahasa etnis yang membungkus sastra etnik dengan media guritan bagi komunitas Jawa atau dengan sastra gending bagi komunitas Using atau lagu pop Bali bagi sastra etnis Bali, demikian juga dengan pantun bagi komunitas Minangkabau di mana pun mereka berada, (2) mendidik anak-anak mulai dari taman kanak-kanak untuk mengenal dan mencintai sastra etnik, (3) pihak yang remaja atau dewasa dibiasakan menggunakan pitutur bahasa dan sastra dalam kehidupan keseharian termasuk para guru di banyak sekolah mulai TK hingga sekolah menengah, (4) menggiatkan musyawarah guru mata pelajaran bahasa dan sastra daerah (etnik), (5) kemasan ICT hanya terbatas untuk publikasi ilmiah dan non-ilmiah bidang sastra etnik, misalnya mengenalkan sastra etnis dalam keping tembang atau lagu pop etnik, seni pertunjukan tradisional sejenis teater rakyat yang berbahasa dan bersastra etnik, termasuk dalam hal ini lawak atau badut tradisional yang dipanggungkan, dan lebih penting lagi, (6) pemerintah daerahnya juga tidak harus pura-pura ”buta” terhadap nasib sastra etnik, tanpa harus bergelimang memperhitungkan kepentingan politik, kecuali untuk perkembangan dan cita-cita mengeksiskan sastra etnik di jagat global.

Sastra etnik sudah bernasib sama dengan penjual kuali, gedheg keliling, aromanis keliling, perkakas dapur keliling dengan sepeda kumbang karena di tataran global sudah menyediakan keperluan rakyat dengan cara bebas milih dan ambil sendiri dengan meniadakan tawar-menawar. Sastra etnis maju mundur untuk dikatakan pada tataran eksis. Ia telah tenggelam atau sengaja menenggelamkan diri dengan cara-caranya sendiri, melebihi para penuturnya. Para penutur tak mau lagi disebut sebagai penutur, kecuali sebatas penyuka tapi ”dikit-dikit” karena harapannya menjadi manusia yang berwajah dan berwawasan global. Para penutur juga tidak taat pada rencana dan konsep perjuangan ”think globaly act localy”, mengejar dan mewatak global, tetapi tidak melupakan dan tidak meninggalkan eksistensi lokal. Ini suratan dan keniscayaan dalam keseharian hidup sastra etnik.

Mewujud dalam tembang

Sastra etnik yang mewujud dalam tembang etnik (dalam bahasa Jawa Kawi: sastra gending) telah membawa beban berat mengenalkan kearifan lokal kepada dunia-dunia yang disinggahinya. Sebut saja misalnya kearifan lokal sebuah sungai yang dikemas dalam sastra lalu menyatu dengan tembang etnik seperti Sungai Bengawan di Solo yang digarap dengan apik oleh Gesang dan Kali Elo di Banyuwangi yang dikarang oleh BS Noerdiyan dan Andang CY, serta Kali Grindulu yang mewujud lagu merdu dan brand Kabupaten Pacitan telah mewujud menjadi tembang yang menerbangkan eksistensi lokal kepada dunia luar. Sastra gending yang mewujud dari sastra etnis telah rela mengabarkan kepada dunia dengan bebas tanpa beban. Ia telah berjasa besar kepada masyarakat etnis dan menggugah kesunyian alam dalam rangka memperkuat ikon kebudayaan melalui geliat sastra etnis.

Denyut tembang yang mendayu-dayu dalam konteks budaya dan kemasan kearifan lokal adalah kiprah sastra etnis yang paling berharga. Umum menyadari bahwa apa pun bentuk dan pertumbuhannya merupakan karya budaya adiluhung bangsa yang tak ternilai sebagai heritage yang berkeadaban. Setidaknya sastra etnik telah sangat mampu mengubah zaman tentang budaya daerah, tradisi lokal, cagar budaya, adat, kuliner, dan warna lokal dalam bingkai local wisdom yang mewujud dalam syair dan untaian kata-kata penuh makna yang kemudian dilantunkan oleh artis-artis lokal hingga membahana ke seantero negeri, maka inilah sebenarnya sastra etnis yang sangat mampu menempatkan jatidiri dengan fungsi dan perannya yang tidak remeh-temeh.

Beberapa sastra etnis semacam sastra Lampung di Provinsi Lampung, sastra Sunda di Jawa Barat, sastra Madura di Pulau Madura, dan beberapa kabupaten di wilayah Jawa Timur, sastra Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, sastra Mentawai di Padang Pariawan Sumatera Barat, sastra Minang di Sumatera Barat, sastra Bukit di Hulu Sungai Tengah Kalimantan, sastra Lisan Ogan di Sumatera Selatan, sastra Bajau di Kota Baru Kalimantan Selatan, sastra Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY, sastra Bali di seluruh Provinsi Bali dan lain-lain telah mengambil peran yang tidak kecil untuk mengabarkan kepada dunia bahwa tugas mereka tidak sia-sia.

Tugas kemanusiaan

Sastra etnik tidak sendirian dalam bertugas mengemas budaya daerah dalam konteks keindonesiaan. Ia merajut kesatuan sebagai khazanah yang kaya-raya dalam media seni dan hiburan yang menjadi jembatan kenusantaraan walaupun ia tidak mampu membantu tugas-tugas berat bangsa semisal memberantas korupsi di negeri sendiri. Ia hanya bisa bersuara atau menjerit sekeras-kerasnya, tetapi tak berhasil memunculkan respons yang kuat, karena kehadirannya hanya dipandang sebelah mata oleh pelaku penyakit negara dan penyakit masyarakat yang terus menggerogoti negeri ini. Sastra etnis sekadar melaksanakan tugas kemasyarakatan dalam kerangka kultural tanpa dukungan apa-apa.

Publik memahami bahwa sastra etnik perlu dimanjakan dan dihidupi dengan perhatian yang besar, dalam bentuk kepedulian. Kepedulian bisa berupa pendanaan untuk diterbitkan atau dipublikasikan, diberi penghargaan bagi penggiat, pelestari, dan pencipta sastra etnik, serta bukan hanya janji-janji palsu yang tak tentu muaranya. Apa yang telah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage merupakan bentuk kepedulian kepada sastra.

Kepedulian nyata yang telah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage patut dijadikan contoh oleh pemerintah (daerah ataupun pusat). Memberikan hadiah dan penghargaan sastra kepada sastrawan dan pelestari sastra Sunda (sejak tahun 1994), kemudian berkembang ke sastra Jawa (tahun 1996), kemudian sastra Bali diberikan tahun 1998 dan pada tahun 2015 ini berkembang penganugerahan sastranya kepada sastra Batak. Langkah Ajip Rosidi dan kawan-kawannya dilakukan setiap setahun sekali itu bukanlah basa-basi atau janji-janji, tetapi bukti nyata pada karya dan penghargaan sastra etnik. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suyanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 25 Oktober 2015

Share:


Dokumentasi Populer



Arsip Literasi